Keilmuan

KITAB ADAB BERUSAHA DAN MENCARI PENGHIDUPAN -Ihya Ilumiddin Iman Al Ghazali 8

Derajat ihsan itu tercapai dengan salah satu dari enam perkara:

1. Pada tipu-daya pada jual-beli المغابنة (al-mughabanah).. Maka seharuslah tidak menipu temannya, dengan apa yang menurut kebiasaannya, dia tidak akan bertipu-daya dengan itu. Adapun pokok penipu-dayaan itu, diizinkanKarena berjual-beli adalah untuk memperoleh keuntungan dan keuntungan itu tidak mungkin, kecuali dengan sesuatu tipu-daya. Tetapi hendaklah dijaga berlebih kurang padanya.

Kalau pembeli memberikan tambahan diatas keuntungan yang biasa, ada kalanya karena bersangatan keinginannya atau bersangatan hajatnya sekarang juga kepada barang itu. Maka seharuslah penjual tidak menolak menerimanya. Maka itu adalah termasuk ihsan.

Manakala tak ada penipuan, niscaya tidaklah mengambil kelebihan itu dinamakan kezaliman. Dan sebahagian ulama beraliran, bahwa yang tipudaya dengan melebihi dari sepertiga modal itu mengharuskan khiar (memilih antara meneruskan aqad itu atau merombaknya). Kami tidak berpendapat demikian. Tetapi sebahagian ihsan itu, ialah mengurangkan tipu-daya itu.

Menurut riwayat, bahwa pada Yunus bin ‘Ubaid terdapat pakaian-pakaian yang berbagai macam harganya. Semacam, harga tiap-tiap sehelai daripadanya empat ratus dan semacam harga tiap-tiap sehelai duaratus. Kemudian, Yunus pergi shalat dan ditinggalkannya ditoko anak saudaranya. Maka datanglah seorang Arab dusun dan meminta sehelai kain yang harganya empatratus, Lalu anak itu membentangkan kepada yang ingin membeli tadi, dari kain-kain yang berharga duaratus. Maka Arab dusun itupun menerima dengan baik dan menyetujuinya. Lalu membeli dan terus pergi, sedang kain itu pada tangannya.

Ditengah jalan bertemu dengan Yunus dan beliau mengenai kainnya, seraya bertanya kepada Arab dusun itu: “Berapa saudara beli?” Arab dusun itu menjawab: Empat ratus!”
Beliau menjawab: Tidak sampai melebihi dari duaratus. Mari kembali supaya aku kembalikan yang lebih!”
Arab dusun itu menjawab: “Kain ini sama dinegeri kami, dengan harga limaratus dan saya setuju dengan kain ini dengan harga sekian tadi.” Lalu Junus berkata kepada orang Arab dusun itu: “Pergilah, karena nase- hat pada Agama itu, adalah lebih baik dari dunia dengan isinya!” Kemudian orang Arab itu kembali ketoko dan dikembalikan kepadanya uang yang duaratus dirham itu. Dan beliau bertengkar dengan anak saudaranya tentang yang tadi itu dan beliau marahi seraya berkata: “Apakah kamu tidak malu, apakah kamu tidak takut kepada Allah, engkau mengambil keuntungan seperti harga itu dan engkau tinggalkan nasehat untuk kaum muslimin?”
Anak itu menjawab: Demi Allah, tidak dia ambil kain itu, kecuali dia telah setuju!”
Yunus menjawab: “Mengapakah tidak kamu rela untuk dia, dengan apa yang engkau rela untuk dirimu sendiri?”
Dan itu, kalau ada padanya penyembunyian harga dan penipuan, maka itutermasuk dalam pintu kezaliman. Dan telah diterangkan dahulu.
57

Dan pada hadits, tersebut: ‘Tipu-daya orang yang melepaskan barangnya itu, haram” (1).

Adalah Zubair bin ‘Uda berkata: “Aku mendapati delapan belas orang shahabat, tiada seorangpun dari mereka memandang ihsan, membeli daging dengan sedirham”. Maka tipu-daya oleh orang-orang yang melepaskan barang-barangnya itu, adalah zalim. Kalau itu terjadi, tanpa pqpipuan maka termasuklah dalam bahagian meninggalkan ihsan. Dan sedikitlah sempurna ini, kecuali dengan ada semacam penipuan dan penyembunyian harga masa itu.

Dan sesungguhnya yang semata-mata ihsan ialah apa yang dinukilkan dari As-Sirri As-Saqathi, bahwa beliau membeli satu sukatan buah lauz (ham- pir serupa dengan buah delima), dengan harga enampuluh dinar. Beliau menulis pada daftar hariannya, tiga dinar keuntungannya. Seakan-akan beliau telah berpendapat, untuk memperoleh keuntungan se- tengah dinar pada tiap-tiap sepuluh dinar pokoknya. Kemudian lauz itu sudah berharga sembilan puluh dinar. Maka datanglah perantara kepadanya, meminta lauz. Lalu beliau menjawab: “Ambillah!” “Berapa harganya?” tanya perantara (agen barang-barang). Beliau menjawab: “Enampuluh tiga dinar!”
Maka agen itu menjawab dan dia termasuk orang yang shalih: “Harga lauz sekarang sudah sembilan puluh dinar”.
As-Sirri menjawab: “Aku telah mengikatkan suatu ikatan, yang tidak akan aku lepaskan, bahwa tidak aku jualkan lauz itu, kecuali dengan enampuluh tiga dinar”.
Orang perantara itu menjawab: “Dan aku telah berjanji antara aku dan Allah Ta’ala tidak akan menipu seseorang muslim. Tidak akan aku ambil daripada engkau, kecuali dengan sembilanpuluh dinar”. Dan menurut riwayat itu, agen itu tak jadi membeli dari As-Sirri dan As-Sirri tak jadi menjual kepada agen itu.
Maka inilah semata-mata ihsan dari kedua pihak. Sesungguhnya diserta- kan dengan pengetahuan itu akan hakikat keadaan yang sebenarnya. Diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Munkadir, bahwa ia mempunyai beberapa potong kain panjang. Sebahagian dengan harga lima dan seba- hagian lagi dengan harga sepuluh. Maka oleh pesuruhnya dijualnya, waktu dia tidak ada, potongan yang harga lima, dengan harga sepuluh. Tatlcala diketahuinya, maka selalulah dicarinya Arab dusun yang membeli barang itu sepanjang hari, sehingga berjumpa. Lalu beliau berkata kepada yang membeli: “Sesungguhnya pesuruhku sudah salah. Dijualnya kepadamu, potongan yang harganya lima, dengan harga sepuluh. Pembeli itu menjawab: “Wahai Tuan! Aku telah setuju yang demikian!” Muhammad bin AI-Munkadir menjawab: “Meskipun kamu rela tetapi aku tidak rela untukmu, kecuali apa yang aku relakan untuk diriku sendiri. Maka pilihlah satu dari tiga perkara: adakalanya engkau ambil potongan

1. Dirawikan Ath-Thabrani dari Abi Amamah dengan sanad dla’if.
58

yang harganya sepuluh dengan dirhammu Itu. Adakalanya kami kembali- kan kepadamu lima dirham. Dan adakalanya kamu kembalikan barang kami dan kamu ambil dirhammu kembali”.

Maka sepembeli itu menjawab: “Berikanlah kepadaku lima dirham itu!” Lalu dikembalikan kepadanya lima dirham. Dan Arab dusun itu pergi, sambil bertanya dan berkata: “Siapakah syaikh yang tadi itu?” Lalu orang menjawab kepadanya: “Itulah Muhammad bin Al-Munkadir!” Maka Arab dusun itu menyahut: “Laailaaha i’lla’Ilaah. Itulah kiranya orang yang kita minta air didesa-desa apabila kita dimusim kamarau!” Itulah ihsan, tidak mau ia beruntung dalam sepuluh, kecuali setengah atau satu, menurut kebiasaan yang berlaku pada barang yang seperti itu pada tempat itu. Dan barangsiapa yang merasa puas dengan keuntungan yang sedikit, niscaya banyaklah mu’amalahnya. Dan memperoleh faedah dari berulang-ulangnya mu’amalah akan banyak keuntungan. Dan dengan itu zahirlah keberkatan.
Adalah Ali r.a. berkeliling dipasar Kufah dengan tongkat pemukul ditangannya, seraya berkata: “Wahai para saudagar! Ambillah yang benar, niscaya kamu selamat! Janganlah kamu menolak keuntungan yang sedikit, maka kamu tidak akan memperoleh keuntungan yang banyak!” Ada orang yang menanyakan kepada Abdurrahman bin ‘Auf: “Apakah sebabnya maka tuan menjadi kaya?”
Abdurraman bin ‘Auf menjawab: “Karena tiga perkara: ‘Tiada aku menolak keuntungan sekali-kali. Tiada orang yang meminta padaku hewan, lalu aku lambatkan menjualnya. Dan tidak aku menjual dengan tangguhan pembayaran”.
Dan ada yang mengatakan, bahwa Abdurrahman bin ‘Auf, menjual seribu ekor untanya, dimana beliau tidak beruntung, kecuali tali pengikatnya. Lalu dijualnya tiap-tiap sehelai tali itu dengan sedirham. Maka ia beruntung seribu dirham. Dan beruntunglah ia dari perbelanjaannya kepada unta itu untuk sehari seribu dirham itu.
2. Pada menanggung tipu-daya pada jual-beli. Maka sipembeli, kalau membeli makanan dari orang yang lemah atau membeli sesuatu dari orang miskin maka tidak apalah ia menanggung tipu-daya itu dan memandang enteng. Dan adalah ia dengan yang demikian, telah berbuat ihsan dan termasuk pada sabda صلى الله عليه وسلم .: “Diberi rahmat kiranya oleh Allah, akan orang yang memudahkan penjualan sebagai mudahnya pembelian”. Adapun apabila ia membeli dari saudagar yang kaya, yang mencari keuntungan melebihi dari keperluannya, maka menanggung tipu-daya dari pembelian itu, tidaklah terpuji. Bahkan itu adalah menyia-nyiakan harta, tanpa pahala dan pujian. Telah tersebut pada suatu hadits yang diriwayat- kan dari jalan keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم  . (Ahlu’l-bait). yang maksudnya: “Orang yang kena tipu-daya pada pembelian, tidaklah terpuji dan memperoleh pahala”.

59

Iyas bin Ma’awiah bin Qurrah – qadli negeri Basrah – seorang tabi’in yang berpikiran cerdas, berkata: “Tidaklah aku ini penipu. Dan penipu itu tidaklah akan menipu aku dan tidak akan menipu Ibnu Sirin. Tetapi akan menipu Al-Hassan dan akan menipu bapakku”. Ya’ni: Ma’awiah bin Qarrah. Dan yang sempurna, ialah: pada tidak menipu dan tidak akan tertipu, sebagai mana disifatkan oleh setengah mereka, akan Umar r.a. dengan mengatakan: “Adalah ‘Umar orang yang mulia, daripada untuk menipu dan lebih berakal, daripada untuk ditipu”.
Al-Hasan dan Al-Husain dan lain-lainnya daripada para salaf pilihan, adalah amat menyelidiki tentang pembelian. Kemudian, mereka berikan bersama yang demikian, akan harta banyak.

lalu ada orang yang menanyakan kepada sebahagian mereka: “Engkau selidiki benar tentang pembelianmu kepada barang yang sedikit. Kemudian engkau berikan yang banyak dan tidak engkau perdulikan yang demikian?”
Maka yang ditanyakan itu, menjawab: “Bahwa yang memberi itu, membe- rikan kelebihannya dan orang yang tertipu itu, tertipu akalnya”. Setengah mereka berkata: “Sesungguhnya aku tipu akalku dan pemandanganku. Maka tidaklah mungkin yang menipu daripadanya. Apabila aku memberi niscaya aku memberi karena Allah. Dan tidak aku meminta lebih banyak daripada Allah akan sesuatu”.
3. Pada penyempurnaan harga dan hutang-hutang yang lain. Dan ihsan padanya, sekali dengan ma’af-mema’afkan dan mengurangkan sebahagian daripadanya. Sekali dengan menangguhkan dan mengemudiankan. Dan sekali dengan memudahkan (tidak menyulitkan) pada meminta uang yang bagus.
Semuanya itu disunatkan dan dianjurkan. Nabi صلى الله عليه وسلم  . bersabda: “Diberi rahmat kiranya oleh Allah akan orang, yang memudahkan penjualan, memudahkan pembelian, memudahkan pembayaran dan memudahkan meminta bayaran”. Maka hendaklah memperoleh do’a Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم  . itu!

Dan Nabi صلى الله عليه وسلم  . bersabda:
اسمح يسمح لك
(Ismah yusmah lak). Artinya: “Ma’afkanlah, niscaya kamu pun akan dima’afkan”. (1). Dan Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:  “Barangsiapa menangguhkan orang yang sukar membayar hutang atau meninggalkan hutang itu untuknya, niscaya Allah akan menghitung amalannya dengan hisab (hitungan) yang mudah”. (2).
1. Dirawikan Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas. Perawi-perawinya orang yang dapat dipercayai.
2.Dirawikan Muslim dari Ka’ab bin Amr, dengan bunyi lain, yang sama maksudnya.
60

dan menurut bunyi yang Iain: “niscaya ia dinaungi oleh Allah dibawah naungan ‘Aras Nya, pada hari, yang tak ada naungan, selain daripada naunganNya”.

Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم . menyebutkan seorang laki-laki yang begitu boros terhadap kepada dirinya sendiri, dimana diperhitungkan amalannya (dihisab), maka tidak diperoleh baginya satu kebaikan pun. Lalu ditanyakan kepadanya: “Adakah kamu kerjakan kebajikan walaupun sekali?” Ia menjawab: ‘Tidak! Kecuali aku ini, adalah seorang laki-laki yang mem- perhutangkan manusia lalu aku katakan kepada budak-budakku: “Bermaaf-maaflah kepada orang yang kaya dan tunggulah orang yang miskin!” Dan menurut bunyi yang lain: “Lewatkan yang miskin yang sukar membayar hutang!” Maka Allah Ta’ala berfirman: “Kami lebih berhak dengan yang demikian daripada engkau. Maka Allah melewatkan dari padanya dan mengampunkan dosanya”.

Dan Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: “Barangsiapa memperhutangkan uang sedinar dengan ditangguhkan kepada sesuatu waktu, maka baginya tiap-tiap hari itu menjadi sedekah, sampai kepada waktu pembayarannya. Apabila waktu itu telah datang maka ditunggunya lagi sesudah itu, (karena orang itu belum sanggup juga) maka baginya tiap-tiap hari, menjadi sedekah seperti hutang itu”. Dan adalah sebahagian salaf, yang tidak menyukai orang yang berhutang padanya, membayar hutangnya, lantaran hadits tadi. Sehingga adalah ia seperti orang yang bersedekah dengan seluruhnya tiap-tiap hari. Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: “Aku melihat pada pintu sorga, tertulis sedekah, pahalanya sepuluh kali hutang, pahalanya delapanbelas kali”. Lalu ada yang mengatakan tentang pengertian hadits ini, yaitu: bahwa sedekah itu jatuh ketangan orang yang memerlukan dan yang tidak memerlukan. Dan kehinaan berhutang itu, tidak ditanggung, kecuali oleh orang yang memerlukan.

“Nabi صلى الله عليه وسلم . melihat kepada seorang laki-laki yang selalu menghubungi seorang laki-laki Iain dengan berhutang padanya. Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم . menunjukkan kepada yang mempunyai uang hutang (yang memperhutangkan) itu dengan tangannya: “Letakkanlah setengah!” Lalu orang itu meletakkannya. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda kepada yang berhutang. “Bangun, berikanlah kepadanya!” (1).
Tiap-tiap orang yang menjualkan sesuatu dan meninggalkan harganya di- waktu itu dan tidak memberatkan memintanya, maka itu adalah searti dengan memperhutangkan.
Diriwayatkan, bahwa Al-Hasan Al-Bashri menjual seekor keledai betina kepunyaannya dengan harga empatratus dirham. Maka tatkala telah datang waktu wajib pembayarannya, lalu sipembeli itu berkata kepada Al-Hasan: “Wahai Bapak Sa’id! Ma’afkanlah dulu!” Lalu menjawab Al-Hasan: “Aku telah ma’afkan daripadamu seratus”.
1. Dirawikan Al-Bkhari dari Muslim dari Ka’ab bin Malik.

Maka menjawab sipembeli: “Engkau telah berbuat ihsan, wahai. Bapak

Lalu Al-Hasan menyambung: “Aku berikan untukmu seratus lagi”. Maka Al-Hasan menerima haknya duaratus dirham. Lalu orang itu berkata kepadanya: “Itu adalah setengah harga!”
Al-Hasan menjawab: “Begitulah adanya ihsan itu. Kalau tidak demikian, maka ihsan itu, tidak ada”.
Pada suatu hadits, tersebut: “Ambiilah hakmu dalam penjagaan dan pemeliharaan, sempurna atau tidak sempurna, niscaya dikirakan untukmu oleh Allah dengan kiraan yang mudah”. (I).

4. Pada pembayaran hutang. Dan setengah dari ihsan pada pembayaran hutang itu, ialah baik pembayarannya. Yaitu, dengan ia pergi kepada yang mempunyai hak (yang memperhutangkan). Dan tidak memberatkan yang mempunyai hak supaya pergi kepada yang berhutang, yang akan membayar hutangnya.

Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:
خيركم أحسنكم قضاء
(Khairukum ahsanukum qadlaa-an).Artinya: “Yang terbaik dari kamu. ialah orang yang terbaik membayar hutangnya”. (2).
Manakala telah sanggup membayar hutang. maka hendaklah bersegera membayarnya. walaupun belum waktunya. Dan hendaklah menyerahkan yang terbaik dari apa yang disyaratkan kepadanya dan yang terbagus. Dan kalau belum sanggup, maka hendaklah berniat akan membayarnya, manakala telah sanggup nanti. Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda: “Barangsiapa berhutang dengan sesuatu hutang dan berniat akan membayarnya, niscaya diwakilkan oleh Allah beberapa malaikat yang akan memeliharanya dan mendo’a untuknya, sehingga ia membayar hutang itu nanti”. (3). Dan adalah segolongan ulama salaf membuat hutang, tanpa ada keperluan, lantaran hadits tersebut.
1. Dirawikan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.
2. Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.
3. Dirawikan Ahmad dari Aisyah.

Leave a Reply