Keilmuan

KITAB ADAB BERUSAHA DAN MENCARI PENGHIDUPAN -Ihya Ilumiddin Iman Al Ghazali 7

Sebahagian mereka itu mengatakan: “Aku tidak akan membeli neraka daripada Allah dengan sebutir biji-bijian”. Dari itu, apabila ia mengambil, maka dikuranginya setengah biji-bijian. Dan apabila ia memberi, maka ditambahinya sebutir biji-bijian. la mengatakan: “Nerakalah bagi orang yang menjual sorga dengan sebutir biji-bijian, dimana sorga itu, lebarnya langit dan bumi. Maka alangkah meruginya orang yang menjual yang baik dengan neraka!”

Sesungguhnya bersangatan benar mereka menjaga diri dari yang tersebut tadi dan yang menyerupainya, adalah karena semuanya itu perbuatan zalim, yang tidak mungkin berobat daripadanya. Karena ia tidak mengenai lagi pemilik-pemilik dari biji-bijian itu, untuk dapat dikumpulkannya dan diselesaikannya hak-hak mereka.
Dan karena itulah, tatkala Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم . membeli sesuatu, lalu berkata kepada yang menimbang, tatkala menimbang menurut harganya: “Timbanglah dan lebihkanlah timbangan itu!”

Fudlail melihat anaknya yang sedang membasuh dinar, yang akan dibe- lanjakannya. Dan anak itu menghilangkan kotoran yang ada pada dinar dan membersihkannya. Sehingga tidak bertambah timbangannya, disebab- kan yang demikian. Maka Fudhlail berkata: “Hai anakku! Perbuatanmu ini adalah lebih utama daripada dua kali hajji dan duapuluh kali ‘umrah”. Setengah salaf berkata: “Saya heran melihat saudagar dan penjual, bagai- mana ia terlepas. Ia menimbang dan bersumpah pada siang hari dan tidur pada malam hari”.

Nabi Sulaiman a.s. bersabda kepada puteranya: “Hai anakku! Sebagaimana masuknya biji-bijian diantara dua batu, maka begitu pulalah masuknya kesatahan diantara dua orang yang berjual-beli”. Setengah orang-orang shalih telah melakukan shalat mait kepada seorang yang keperempuan-perempuanan. Lalu ada orang yang mengatakan kepadanya. bahwa orang itu fasiq. Maka orang shalih tadi diam. Kemudian diulangi lagi perkataan tersebut. Lalu beliau menjawab: “Seolah-olah engkau berkata kepadaku: “Adalah orang itu mempunyai dua timbangan. Dia memberi dengan satu timbangan dan dia mengambil dengan timbangn yang lain”.

Beliau tunjukkan dengan itu, bahwa fasiq adalah kezaliman antara seseorang dan Allah Ta’ala. Dan ini, adalah setengah dari kezaliman hamba. Toleransi dan pema’afan padanya, adalah lebih jauh. Dan tindakan keras mengenai urusan timbangan itu, adalah besar. Dan melepaskan diri dari padanya, berhasil dengan sebutir dan setengah butir biji-bijian. Dan pada qira-ah (bacaan) Abdullah bin Mas’ud r.a. pada firman Allah Ta’ala:

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ, أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
(ilLaa tathghau filmiizaani we aqiimul-wazna billisaani wa laa tukhsirul- mii-zaan).

51

Artinya: “Supaya kamu jangan melanggar aturan berkenaan dengan neraca (al-mizan). Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adii dan janganlah kamu mengurangi timbangan (al-mizan)” – artinya: jarum dari timbangan (lisanu’l-mizan). S. Ar-Rahman, ayat 8 dan 9. Karena kekurangan dan kelebihan itu, nyata dengan merengnya jarum neraca itu. Kesimpulannya, tiap-tiap orang yang menginsafi untuk dirinya sendiri, tidak untuk orang lain, walaupun dalam sepatah kata dan tidak menaruh keinsyafan seperti apa yang diinsyafkannya itu, maka termasuklah dia dalam firman Allah Ta’ala:
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ,
(Wai-lun-lil-muthaffifiinal-ladziina idzaktaaluu ‘alan-naasi yastaufuun). Artinya: “Celaka untuk orang-orang yang mengecuh. Apabila mereka meyukat dari orang lain (untuk dirinya), dipenuhkannya (sukatan)” – sampai beberapa ayat lagi. S. Al-Muthaf-fifin, ayat 1 dan 2. Pengharaman yang demikian itu pada sukatan, tidaklah karena dia itu sukatan. Tetapi karena ada suatu hal yang dimaksudkan. Yaitu: meninggalkan keadilan dan keinsyafan akan arti keadilan. Maka dia itu zalim pada segala perbuatan yang dilakukannya. Maka yang mempunyai neraca itu berada dalam bahaya neraka.

Tiap-tiap orang mukallaf (yang telah dewasa dan berpikiran sehat), adalah mempunyai neraca dalam segala perbuatan, perkataan dan segala gurisan hatinya. Maka nerakalah baginya, jika ia berpaling dari keadilan dan mereng dari kelurusan.

Dan jikalau tidak sukarlah ini dan mustahilnya, niscaya tidaklah datang- firman Allah Ta’ala:
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا
(Wa in minkum illaa waariduhaa kaana ‘alaa rabbika hatman maqdliyyaa). Artinya: “Dan tiada seorangpun diantara kamu yang tiada masuk kedalamnya; itulah keputusan Tuhan yang tak dapat dihindarkan” – S. Maryam, ayat 71.
Maka senantiasalah hamba itu tidak terpelihara (tidak ma’shum) dan ke- merengan dari kelurusan. Hanya derajat kemerengan itu berlebih-kurang secara besar-besaran. Maka karena itulah, berlebih-kurangnya masa manusia itu menetap dalam neraka sampai kepada masa kelepasan. Sehingga setengah mereka tidak tinggal dalam neraka, melainkan sekedar

52

kafarat sumpah. Dan setengahnya tinggal beribu-ribu tahun. Maka marilah kita bennohon kepada Allah Ta’ala, kiranya mendekatkan kita kepada kelurusan dan keadilan. Sesungguhnya kesulitan diatas titian Ashshirathal-mustaqim, tanpa mereng padanya, adalah tak dapat diharap- kan. Karena titian itu, adalah lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Jikalau tidaklah pertolongan Allah, niscaya orang yang lurus pun tidak akan sanggup melewati jalan yang memanjang diatas titian neraka, yang sifatnya lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang itu. Dan menurut kadar kelurusan diatas Ash-shirathal-mustaqim itu, ringan- lah hamba pada hari kiamat diatas titian itu.

Tiap-tiap orang yang mencampurkan makanan dengan tanah atau lainnya, kemudian disukatinya, maka adalah dia itu orang yang mengecuh (menipu) pada sukatan. Tiap-tiap penjual daging, yang menimbang bersama daging tulangnya, yang tidak berlaku kebiasaan seperti itu, maka dia itu adalah orang yang mengecuh pada timbangan. Dan qiaskanlah kepada yang tersebut ini, perumpamaan-perumpamaan yang Iain, sehingga pada hasta yang dilakukan oleh penjual kain. Karena apabila ia membeli, lalu dilepaskannya kain pada waktu penghastaan. Dan tidak dipanjangkannya menurut semestinya. Dan apabila ia menjualkannya, lalu dipanjangkannya pada penghastaan, supaya menampak berlebih-kurang ukurannya. Maka semua itu, adalah termasuk pembohongan yang orangnya dibawa keneraka.
Yang Keempat: bahwa berkata benar tentang harga barang dan tidak disembunyikannya sesuatu.
Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم . melarang “tala’qqi’rrukban” dan melarang pula “an-najasy”.
Tala’qqi’rrukban: yaitu, menghadapi rombongan yang datang kekota dan menerima barang yang dibawa mereka serta berdusta tentang harga barang dikota.

Nabi صلى الله عليه وسلم . bersabda:
لا تتلقوا الركبان
(Laa tatalaqqur-rukbaan).
Artinya: “Janganlah kamu melakukan تلقي الركبان ” tala’qqi’rrukban” (1). Dan barangsiapa melakukan yang demikian, maka yang mempunyai barang itu, boleh berkhiar (memilih antara meneruskan atau membatalkan jual-beli), setelah ia datang dipasar.
Pembelian itu sah. Akan tetapi kalau ternyata bohongnya, maka boleh sipenjual itu berkhiar. Dan kalau ia benar, maka tentang khiar itu, terdapat khilaf (perbedaan pendapat diantara para ulama). Karena timbul pertentangan dari umumnya bunyi hadits diatas tadi, serta tak ada padanya penipuan
1. Dirawikan Muslim dari Abi Hurairah.
53
Dan dilarang pula, orang kota menjual untuk orang kampung. Yaitu: orang itu datang kekota dengan membawa barang makanan, dengan maksud mau dijualnya dengan segera. Lalu berkata orang kota kepadanya: “Tinggalkanlah makanan itu padaku, sehingga aku dapat memahalkan harganya dan aku menunggu ketinggian harganya itu!” Cara ini diharamkan pada makanan. Dan mengenai barang-barang lain, terdapat khilaf diantara para ulama. Dan yang lebih terang kepada kebe- naran, diharamkan, karena umumnya larangan itu. Dan karena perbuatan yang tersebut, adalah melambatkan penjualan, untuk menyempitkan orang banyak pada umumnya, tanpa paedah, untuk mencari kelebihan yang menyempitkan.
Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم . melarang عن النجش “an-najasy”, yaitu: datang kepada sipenjual, yang sedang berhadapan dengan orang yang ingin membeli barang itu. Dan meminta barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi, sedang sebenarnya ia tidak bermaksud membelinya. Hanya ia bermaksud, meng- gerakkan keinginan sipembeli kepada barang itu.

Cara ini, jika tak ada kesepakatan dengan sipenjual, adalah perbuatan haram dari yang melakukan an-najasy. Dan jual beli itu sah. Dan jika ada kesepakatan dengan sipenjual, maka tentang boleh khiar bagi sipembeli, terdapat khilaf diantara para ulama.

Dan pendapat yang lebih utama, boleh sipembeli melakukan khiar. Karena terdapat penipuan dengan perbuatan, yang menyerupai dengan penipuan pada mengikat susu lembu (supaya tidak diminum oleh anaknya, lalu timbul sangkaan bagi sipembeli bahwa binatang itu banyak susunya). Dan menyerupai pula dengan penipuan pada تلقي الركبان “tala’qqi’rrukban. Maka segala larangan tersebut menunjukkan, bahwa tidak diperbolehkan berbuat yang menimbulkan keragu-raguan kepada sipenjual dan sipembeli tentang harga barang diwaktu itu. Dan menyembunyikan sesuatu hal, dimana kalau sipenjual atau sipembeli mengetahuinya, niscaya ia tidak akan mau melakukan jual-beli itu.* Maka perbuatan tersebut, termasuk penipuan yang diharamkan, yang berlawanan dengan nasehat yang diwajibkan dalam jual-beli.

Diceriterakan bahwa seorang dari tabi’in berada di Basrah dan ia mempunyai seorang budak di Sus, yang berusaha menyediakan gula kepadanya. Lalu budak itu menulis surat kepada tabi’in tadi, yang menerangkan: Bahwa batang tebu telah diserang penyakit pada tahun ini. Dari itu, belilah gula!”
Tabi’in itu menerangkan seterusnya. Lalu beliau membeli gula banyak- banyak. Tatkala sampai waktunya, maka beliau beruntung tigapuluh ribu. Lalu pulang kerumahnya. Maka beliau terpikir pada malamnya, seraya berkata: “Aku telah beruntung tigapuluh ribu dan aku telah merugi akan nasehat kepada seorang lelaki muslim”.

54

Tatkala pagi hari, terus beliau datang kepada penjual gula itu dan menyerahkan kepadanya uang yang tigapuluh ribu, seraya berkata “Diberkahi Allah kiranya engkau pada uang ini!”

Maka bertanya penjual gula itu: “Dari manakah uang ini untukku?” Tabi’in itu menjawab: “Sesungguhnya aku telah menyembunyikan padamu akan hakikat keadaan yang sebenarnya. Adalah gula telah mahal pada Waktu itu!”
Penjual gula itu menjawab: “Diberi rahmat kiranya oleh Allah akan kamu! Sesungguhnya telah engkau beritahukan sekarang kepadaku dan aku memandang baik uang ini untukmu!” Tabi’in itu meneruskan ceriteranya. Lalu beliau pulang dengan uang itu kerumahnya, berpikir dan semalam-malaman tidak tidur. Dan berkata: “Apakah kiranya, yang telah aku nasehatkan kepadanya? Mungkin ia rnalu kepadaku, maka ditinggalkannya uang itu untukku”. Maka pagi-pagi benar, beliau datang lagi kepada penjual gula itu, seraya berkata: “Kiranya Allah mendatangkan sehat-wal’afiat kepadamu! Ambillah hartamu kepadamu! Yang begitu adalah lebih membaikkan bagi hati- ku”.

Maka penjual itu lalu mengambil dari tabi’in uang yang tigapuluh ribu itu. Maka hadits-hadits tadi tentang larangan-larangan dan ceritera-ceritera, menunjukkan kepada tidak menunggu kesempatan dan kelengahan dari yang mempunyai barang. Lalu tersembunyilah dari penjual akan mahalnya harga atau dari pembeli untuk menanya-nanyakan berbagai macam harga. Kalau diperbuat yang demikian, maka itu adalah zalim, meninggalkan keadilan dan kenasehatan bagi kaum muslimin.
Manakala sipenjual itu menjual dengan beruntung, dimana ia berkata: “Aku jual dengan apa yang harus atasku atau dengan apa yang aku beli- kan” maka haruslah ia bersikap benar. Kemudian harus ia menerangkan dengan apa yang terjadi sesudah ‘aqad, tentang kerusakan atau kekurangan. Dan kalau ia membeli sampai kepada suatu waktu yang di­tangguhkan, niscaya wajiblah diterangkannya.. Dan kalau ia membeli dengan bertoleransi, dari teman atau anaknya, niscaya wajiblah disebut- kannya. Karena orang yang melakukan mu’amalah itu, berpegang kepada adat kebiasaan, pada penyelidikan, dimana ia tidak meninggalkan perhatian untuk kepentingan dirinya sendiri.

Apabila ia meninggalkan yang demikian, disebabkan sesuatu sabab maka haruslah diterangkan. Karena pegangan padanya, adalah kepada amanahnya.
55

BAB KEEMPAT: tentang ihsan pada mu’amalah.
Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh dengan keadilan dan berbuat ihsan segala-galanya. Keadilan itu adalah sebab kelepasan saja dan berlaku pada perniagaan seperti berlakunya modal. Dan ihsan (berbuat kebaikan), ada­lah sebab kemenangan dan memperoleh kebahagiaan. Dan berlaku pada perniagaan seperti berlakunya keuntungan. Dan tidak terhitung dari orang yang berakal pikiran, orang yang merasa puas pada mu’amalah dunia, dengan modalnya saja. Maka seperti itu pulalah pada mu’amalah akhirai. Tiada seharuslah bagi orang yang beragama, mencukupkan dengan keadilan dan menjauhkan kezaliman saja dan meninggalkan segala pintu ihsan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
(Wa ahsin kamaa ahsanallaahu ilaika).Artinya: “Dan buatlah kebaikan, sebagaimana Allah telah berbuat kebaikan kepada engkau”. S. Al-qashash, ayat 77. Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ
(Innallaaha ya’muru bil’adli wal-ihsaan).Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan menjalankan keadilan dan berbuat kebaikan (ihsan)” S. An-Nahl, ayat 90. Dan Allah  الله ع  berfirman:
إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
(Inna rahmatallaahi qariibun minal-muhsiniin).Artinya: “Sesungguhnya ramat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan (berbuat ihsan)”. – S. Al-A’raf ayat 56. Dan kami maksudkan dengan إحْسَانِ “ihsan”, yaitu: perbuatan yang bermanfa’at kepada orang yang melakukan المعاملة mu’amalah. Sedang perbuatan itu tidak menjadi kewajibannya. Tetapi sebagai perbuatan keutamaan daripadanya. Yang wajib itu masuk dalam bab keadilan dan meninggalkan kezaliman. Dan itu telah kami sebutkan dahulu.

Leave a Reply

Or