Keilmuan

KITAB ADAB BERUSAHA DAN MENCARI PENGHIDUPAN -Ihya Ilumiddin Iman Al Ghazali 6

Orang-orang yang seperti mereka ini, ialah mereka yang berniaga didunia dan tidak menyia-nyiakao agamanya dalam perniagaan. Tetapi mereka itu mengetahui bahwa keuntungan akhirat, adalah lebih utama dicari dari keuntungan dunia.
Yang Kedua: ia menyatakan segala kekurangan dari barang yang akan dijual, baik yang tersembunyi atau yang nyata dan tidak menyembunyikan sesuatu daripadanya.

Yang demikian itu, adalah wajib. Kalau disembunyikannya, niscaya adalah ia orang zalim dan penipu. Dan penipuan itu haram dan telah meninggalkan nasehat pada mu’amalah. Dan nasehat itu wajib. Manakala dibukanya salah satu dari dua belahan kain dan disembunyikannya yang sebelah lagi, niscaya dia itu penipu. Begitu pula, apabila diben- tangkannya kain pada tempat yang gelap. Dan begitu pula apabila diper- lihatkannya satu yang terbaik dari sepasang sepatu atau selop dan lain-lain sebagainya.

Dibuktikan haramnya penipuan itu oleh apa yang diriwayatkan: “Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم . melalui pada seorang laki-laki yang menjual makanan. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم . merasa tertarik kepada makanan itu. Lalu beliau memasukkan tangannya kedalamnya. Maka beliau melihat basah, lalu bertanya: “Apakah ini?”Laki-laki itu menjawab: “Kena hujan!”
Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم . menyahut: “Mengapakah tidak kamu letakkan atas makanan, supaya dilihat orang? Barangsiapa menipu kami, maka tidaklah ia daripada kami”. (1).

Dibuktikan kepada wajibnya ketegasan dengan menerangkan kekurangan- kekurangan, ialah apa yang diriwayatkan, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم  . tatkala sudah menerima sumpah setia (bai-‘ah) Jurair kepada Islam, lalu beliau pergi hendak meninggalkan tempat itu. Maka beliau tarik kain Jurair kepadanya dan mensyaratkan kepada Zurair supaya tegas dalam berjual beli bagi tiap-tiap orang Islam. Dari itu, Jurair, apabilah bangun menjualkan barang dagangannya, niscaya dilihatnya kekurangan-kekurangannya kemudian diterangkannya.
Kemudian disuruhnya pilih kepada pembeli itu, dengan berkata: “Kalau mau, ambillah dan kalau tidak mau tinggalkanlah!” Lalu orang mengatakan kepadanya: “Kalau engkau berbuat seperti ini, niscaya tidak akan berlangsung penjualanmu!”
Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya kami telah bersumpah setia dengan Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم  . untuk menjelaskan dalam pembelian bagi setiap muslim”.Adalah Wailah bin Al-Asqa’ berhenti di suatu tempat. Lalu seorang laki- laki menjual untanya dengan harga tigaratus dirham. Wailah terlupa dan
1. Dirawikan Muslim dari- Abu Hurairah.
46

laki-Iaki yang membeli telah pergi dengan membawa unta yang dibelinya. Lalu Wailah berjalan cepat dibelakang orang itu dan berteriak memanggil: “Hai yang membeli unta!. Engkau belikan unta untuk dagingnya atau untuk belakangnya (untuk kenderaan)?” Pembeli itu menjawab: Untuk belakangnya!”
Lalu Wailah berkata: “Sesungguhnya pada alas kakinya berlobang. Telah aku lihat lobang itu. Unta itu tidak akan sanggup berjalan terus-menerus”.
Maka pembeli itu kembali, lalu mengembalikan unta yang telah dibelinya. Dan oleh penjual lalu mengilrangkan harga unta itu dengan seratus dirham, seraya berkata kepada Wailah: “Kiranya Allah mencurahkan rahmat kepadamu! Engkau telah batalkan terhadapku akan penjualanku”. Wailah menjawab: “Sesungguhnya kami telah mengadakan bai’ah dengan Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم  . untuk menegaskan pada jual-beli kepada tiap-tiap muslim”. Dan seterusnya ia berkata: “Aku mendengar Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: ‘Tidak halal bagi seseorang yang menjual sesuatu penjualan, kecuali menerangkan kekurangannya. Dan tidak halal bagi orang yang mengetahui demikian, kecuali menerangkannya”. (1).

Mereka memahami dari nasehat itu, bahwa tidak rela untuk saudaranya, selain apa yang ia rela untuk dirinya sendiri. Dan mereka tidak memper- cayai bahwa yang demikian itu, sebahagian dari amal-perbuatan yang utama dan tambahan kedudukan yang tinggi. Tetapi mereka mempercayai bahwa yang demikian itu, sebahagian dari syarat-syarat Islam yang masuk dibawah bai’ah mereka.

Dan ini adalah hal yang sukar bagi kebanyakan orang. Maka karena itulah mereka memilih menjuruskan diri kepada ibadah dan mengasingkan diri dari manusia ramai. Karena menegakkan hak-hak Allah serta bercampur- baur dan bermu’-amalah, adalah perjuangan (mujahadah) yang tidak bangun menegakkannya, selain oleh orang-orang shiddiq. Dan tidak mudah yang demikian bagi seseorang hamba, kecuali dengan mempercayai dua hal:

1. Bahwa mencampurkan dengan kekurangan-kekurangan dan melakukan benda itu, tidaklah menambah rezeki. Tetapi menghapuskan rezeki dan menghilangkan keberkatannya. Dan apa yang dikumpulkannya dari cam- puran yang bermacam-macam itu, akan dibinasakan oleh Allah dengan sekaligus.

Menurut ceritera, ada seorang laki-laki mempunyai lembu betina yang di- perahnya susunya dan dicampurkannya susu itu dengan air dan dijualkan- nya. Maka datanglah banjir, lalu karamlah lembu betina itu. Maka berkata sebahagian anaknya: “Bahwa air’yang berpisah-pisah yang telah kita tuangkan dahulu kedalam susu itu, telah berkumpul sekaligus dan mengambil lembu betina kita”.
1. Dirawikan Al-Hakim dari Wailah dan katanya shahih isnad
47

Bagaimana tidak? Sedangkan Nabi صلى الله عليه وسلم . telah bersabda: “Dua orang yang berjual beli, apabila keduanya benar dan berterus-terang (nasehat- menasehati), niscaya diberkati kepada keduanya dalam ber-jual-beli. Dan apabila keduanya menyembunyikan dan membohong, niscaya dicabut ke- berkatan jual-beli itu”. (1).

Pada suatu hadits, tersebut: “Tangan (Qudrah) Allah diatas dua orang yang berkongsi, selama keduanya tidak khianat-mengkhianati. Apabila keduanya khianat-mengkhianati, niscaya Allah mengangkatkan tanganNya daripada keduanya”. (2).
Jadi, harta itu tidak akan bertambah dari pengkhianatan, sebagaimana tidak akan berkurang dengan bersedekah. Dan orang yang tidak menge- nali tambahan dan kekurangan, kecuali dengan timbangan, niscaya tidak akan membenarkan hadits diatas tadi. Dan barangsiapa mengetahui, bahwa sedirham saja, kadang-kadang diberkati padanya, sehingga menjadi sebab kebahagiaan manusia didunia dan pada Agama. Dan beribu-ribu yang susun-bersusun, kadang-kadang dicabut oleh Allah akan keberkatan daripadanya. Sehingga menjadi sebab kepada kebinasaan pemiliknya, dimana ia berangan-angan akan memboros dengan uang itu. Dan dipandangnya lebih mendatangkan kemuslihatan baginya dalam beberapa hal. Lalu ia mengetahui akan arti perkataan kami: “Bahwa pengkhianatan itu, tidak menambahkan harta dan sedekah itu tidak mengurangkan harta”.
2. Yang tak boleh tidak dari kepercayaan itu, supaya sempurnalah nasehat itu dan menjadi mudah baginya, ialah: bahwa ia tahu keuntungan dan kekayaan akhirat, adalah lebih baik dari kekayaan dunia. Dan segala faedah harta dunia itu akan habis dengan habisnya umur. Dan tinggallah segala kezaliman dan kedosaan. Maka bagaimanakah orang yang berakal itu membolehkan, untuk menggantikan barang yang lebih baik dengan yang lebih buruk? Dan kebaikan seluruhnya, ialah pada keselamatan Agama. Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم . bersabda: “Senantiasalah “Laa ilaaha i’lla’llaah” meno- lak kemarahan Allah dari makhluk, selama mereka tidak melebihkan perbuatan dunianya dari akhiratnya”. (3).

Dan menurut kata-kata yang Iain: “Selama mereka tidak memperdulikan akan apa yang kurang dari dunia mereka dengan keselamatan agamanya. Apabila mereka berbuat yang demikian itu dan mengucapkan “Laa ilaaha i’lla’llaah”, niscaya Allah Ta’ala berfirman: “Bohong kamu, tidaklah kamu itu benar dengan ucapan itu!”

Dan pada hadits lain, tersebut: “Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha i’lla’llaah” dengan ikhlas, niscaya ia masuk sorga”. Lalu orang bertanya: “Apakah keikhlasannya itu?”
1. Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Hakim bin Hizam.
2. Dirawikan Abu Dawud dan Al-Hakim dari Abu Hurairah.
3. Dirawikan Abu Yu’la dan Al-Baihaqi dari Anas dengan sanad dla’if.
48

Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم . menjawab: “Bahwa dipeliharanya keikhlasan itu dari- pada apa yang diharamkan oleh Allah”. Dan bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم . pula: ‘Tidaklah beriman dengan Al-Qur-an, orang yang menghalalkan segala yang diharamkan oleh Al-Qur-an”. (1).
Dan orang yang mengetahui, bahwa segala pekerjaan itu merusakkan ke- imanannya dan keimanannya itu adalah modalnya dalam perniagaan pada jalan akhirat, niscaya ia tidak akan menyia-nyiakan modalnya itu, yang tersedia untuk umur yang tak berkesudahan, disebabkan keuntungan yang dimanfa’atinya dalam beberapa hari yang terbilang jumlahnya. Dari sebahagian tabi’in, yang mengatakan: “Kalau aku masuk kemasjid jami’ dan masjid itu berdesak-desak dengan pengunjungnya, lalu ditanya- kan kepadaku: “Siapakah yang terbaik dari mereka?” Sesungguhnya aku menjawab: “Siapa yang lebih banyak memberi nasehat kepada mereka. Maka apabila mereka menjawab: “Ini!” niscaya aku menjawab: “Dia itu adalah yang terbaik dari mereka!” Dan kalau ditanyakan kepadaku: “Siapakah yang terjahat dari mereka?” niscaya aku menjawab: “Siapa yang lebih banyak menipu mereka”. Maka apabila ada orang yang menga­takan: “Ini!” niscaya aku menjawab: “Dia itu adalah yang terjahat dari mereka”.

Penipuan itu haram pada penjualan dan perusahaan seluruhnya. Dan tidak seharuslah seorang tukang mempermudah-mudahkan perbuatannya, diatas cara, jikalau orang lain berbuat demikian terhadap dia, niscaya ia tidak menyetujui untuk dirinya sendiri.Tetapi seharuslah membaguskan dan meneguh-kuatkan perbuatan itu.Kemudian menerangkan kekurangan-kekurangannya, kalau ada padanya kekurangan. Maka dengan demikian, terlepaslah dia.
Seorang laki-laki pembuat sepatu bertanya kepada Bin Salim. Orang itu bertanya: “Bagaimanakah supaya aku selamat dalam menjual selop-selop itu?”Bin Salim menjawab: “Buatlah kedua muka sepatu itu sama! Janganlah engkau lebihkan kanan dari yang lain dan baguskanlah isinya! Dan hendaklah sepatu itu menjadi sebuah benda yang sempurna! Dekatkan dianta­ra lobang-lobangnya dan janganlah engkau tindihkan salah satu dari kedua selop itu keatas yang lain!”
Dan dari bahagian inilah, apa yang ditanyakan orang kepada Ahmad bin Hanbal r.a. dari perbaikan kain, dimana perbaikan itu tidak terang. Imam Ahmad menjawab: “Tidak boleh bagi orang yang menjualnya menyembu- nyikannya”. Dan sesungguhnya halal dijual kain yang diperbaiki dengan jahitan itu, apabila diketahui akan diterangkannya. Atau ia tidak bermaksud perbaikan itu untuk menjualkannya”.
Kalau anda berkata: “Mu’amalah itu tidak akan sempurna, manakala wa- jib orang menyebutkan segala kekurangan dari barang yang dijual”.
1. Dirawikan Ath-Thabrani dari Zaid bin Arqam.
49

Maka aku menjawab: “Bukanlah demikian! Karena syarat saudagar itu, tidaklah membeli untuk dijual, melainkan yang baik yang disenangi untuk dirinya sendiri, jikalau ditahannya (tidak dijualnya). Kemudian, ia merasa puas pada penjualannya dengan keuntungan yang sedikit. Lalu diberkati oleh Allah baginya pada penjualannya. Dan ia tidak berhajat kepada penipuan.
Dan sesungguhnya sukar yang demikian itu. Karena mereka tidak merasa puas dengan keuntungan yang sedikit. Dan tidak selamat yang banyak itu, kecuali dengan penipuan.

Orang- yang membiasakan dirinya yang tersebut diatas itu, niscaya tidak akan menutup yang kekurangan. Kalau jatuh kedalam tangannya yang kekurangan, walaupun yang jarang terjadi, maka hendaklah disebutkannya dan hendaklah ia merasa puas dengan harganya itu. Ibnu Sijin menjual seekor kambing, lalu ia berkata kepada pembelinya: “Aku jelaskan kepadamu kekurangan yang ada pada kambing itu, yaitu: terbalik kuku pada kakinya”.
Al-Hasan bin Shalih menjual budak wanita, lalu mengatakan kepada pembelinya: “Budak ini selama pada kami, pada suatu kali ia berdahak darah”.

Maka begitulah adanya jalan yang ditempuh oleh kaum Agama. Siapa yang tidak sanggup cara yang demikian, maka hendaklah meninggalkan mu’amalah! Atau menempatkan dirinya pada azab akhirat. yang Ketiga: Bahwa tidak menyembunyikan sedikitpun tentang kadarnya. Yang demikian itu, adalah dengan kejujuran timbangan dan berhati-hati padanya dan pada sukatan. Maka seharuslah menyukat sebagaimana mestinya disukatkan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ , الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ , وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
Artinya: “Celaka untuk orang-orang yang mengecuh. Apabila mereka menyukat dari orang lain (untuk dirinya), dipenuhkannya (sukatan). Tetapi apabila mereka menyukat untuk orang lain atau menimbang untuk orang lain, dikuranginya”. S. Al-Muthaffifin, ayat 1-2-3.

Dan tidak akan terlepas dari ini, kecuali dengan melebihkan apabila memberi- dan mengurangkan apabila mengambii. Karena keadilan yang sebenarnya, amat sedikitlah tergambar kealam kenyataan. Dari itu, hendaklah keadilan itu dhahir dengan dhahirnya kelebihan dan kekurangan. Maka orang yang meminta benar-benar akan haknya dengan sesempurna mungkin, mungkin akan melampauinya.

Leave a Reply