Keilmuan

KITAB ADAB BERUSAHA DAN MENCARI PENGHIDUPAN -Ihya Ilumiddin Iman Al Ghazali 5

Dan pada kata yang lain: “maka seolah-olah ia telah mcmerdekakan seorang budak”.
Dan ada yang mengatakan, mengenai firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
(Wa man yurid fiihi bi-il-haadin bi dhulmin nudziqhu min ‘adzaabin aliim). “Dan barangsiapa ingin melakukan kezaliman padanya dengan tidak jujur, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksaan yang pedih” – S. Al-Hajj, ayat 25, bahwa ihtikar, adalah dari kezaliman dan masuk dibawah kezaliman dalam perbuatan yang dijanjikan dengan azab (wa’id). Dan diriwayatkan dari setengah salaf. bahwa beliau ada di Wasith, lalu membawa sekapal gandum ke Basrah. Dan beliau menuliskan kepada wakilnya: “Juallah makanan ini pada hari mcmasuki Basrah dan janganlah engkau lambatkan sampai besok!” Maka sesuailah makanan itu dengan kelapangan tentang harganya. Lalu saudagar-saudagar lain mengatakan kepada sang wakil dari salaf tadi: “Kalau engkau lambatkan sampai hari Jum’at. niscaya engkau akan beroleh keuntungan berlipat-ganda”.
Maka wakil itu melambatkannya sampai hari Jum’at. Lalu ia beruntung dengan beberapa kali dari pokok. Maka disuratinya kepada yang punva makanan itu. dengan demikian. Lalu yang mempunyai makanan itu. membalasinya: “Hai Anu! Kami telah merasa cukup dengan keuntungan yang sedikit, serta Agama kami selamat. Dan engkau telah menyalahi. Kami tidak suka memperoleh keuntungan yang berlipat-ganda, dengan kehilangan walau sedikit dari Agama. Sesungguhnya engkau telah menganiaya kami dengan sesuatu penganiayaan. Maka apabila sampai kepadamu suratku ini, lalu ambillah harta itu seluruhnya dan sedekahkanlah kepada orang-orang fakir di Basrah. Dan semoga aku terlepas dari dosa ihtikar, dengan tercegahnya, baik keatas diriku atau terhadap harta milikku”. Ketahuilah kiranya. bahwa larangan itu mutlak. Dan pemandangan padanya bergantung kepada waktu dan jenis dari makanan. Mengenai jenis, maka larangan itu datang mengenai segala jenis makanan. Adapun yang bukan makanan dan bukan yang menolong kepada makanan, seperti obat-obatan. jamu-jamuan, za’faran dan lain-lain sebagainya, maka tiada sampailah larangan itu kepadanya, meskipun dia itu barang yang dimakan.
Adapun yang menolong kepada makanan, seperti daging, buah-buahan dan yang dapat menggantikan makanan dalam sebahagian hal keadaan, walaupun tidak mungkin secara terus-menerus, maka ini termasuk hal yang menjadi perhatian.
39

Maka sebagian dari para ulama, ada yang mengemukakan haram ihtikar pada minyak samin, madu, minyak kacang, dadih, minyak zait dan yang berlaku seperti itu.
Adapun mengenai waktu, maka mungkin juga larangan itu datang pada segala waktu. Dan kepadanyalah, dibuktikan oleh cerita yang telah kami sebutkan tadi, tentang makanan yang memperoleh keluasan harga di Basrah. Dan mungkin juga, waktu itu ditentukan dengan waktu kekurangan makanan dan manusia berhajat kepadanya. Sehingga dengan mengemudiankan penjualannya, mendatangkan kemelaratan.
Adapun, apabila makanan itu meluas dan banyak dan manusia tidak memerlukan kepadanya dan tidak mengingininya, selain dengan harga yang murah, maka yang mempunyai makanan itu dapat menunggu. Dan ia tidak menunggu musim kemarau. Maka dalam hal yang tersebut ini, tidaklah mendatangkan kemelaratan.
Apabila waktu itu musim kemarau, niscaya dengan menyimpan madu, minyak samin, minyak kacang dan lain-lain sebagainya, dapat mendatangkan kemelaratan. Maka seharuslah dihukum dengan haramnya. Dan yang menjadi perpegangan tentang tidaknya haram atau adanya haram itu, adalah berdasarkan kepada mendatangkan kemelaratan. Dan ini dapat di fahami benar-benar, dengan penentuan makanan itu.
Dan apabila tak ada kemelaratan, maka tidaklah tersembunyi, tentang kemakruhannya ihtikar makanan. Karena ditunggu oleh dasar-dasar yang membawa kemelaratan. Yaitu: ketinggian harga. Dan menunggu dasar-dasar yang membawa kemelaratan, adalah harus diawasi, seperti menunggu kemelaratan itu sendiri. Tetapi dalam tingkat yang masih dibawah daripadanya.Dan menunggu kemelaratan itu sendiri juga, adalah masih kurang dari kemelaratan. Maka dengan kadar tingkat kemelaratan itu, berlebih kurang- nya deraiat kemakruhan dan keharaman.
Kesimpulannya, berniaga makanan itu, adalah termasuk tidak disunatkan. Karena perniagaan itu, adalah mencari keuntungan. Sedang makanan itu adalah barang pokok, yang dijadikan sebagai tiang kehidupan. Dan keuntungan itu, adalah termasuk tambahan. Maka seharuslah keuntungan itu dicari pada apa yang dijadikan dalam jumlah tambahan yang tidak mendatangkan kemelaratan kepada orang banyak.

Dan karena itulah, setengah tabi’in mewasiatkan kepada seorang laki-laki, seraya berkata: “Janganlah engkau serahkan anak engkau pada dua macam penjualan dan dua macam pekerjaan: menjual makanan dan menjual kain kafan! Karena ia mengharap mahal dan banyak orang mati”. Dan dua pekerjaan itu, ialah: menjadi tukang potong. Karena pekerjaan ini mendatangkan kesesatan hati. Atau menjadi tukang emas. Karena yang demikian itu menghiasi dunia dengan emas dan perak. Macam Kedua: melakukan dirham palsu ditengah-tengah naqad (emas dan
40

perak yang sejati). Maka itu. adalah perbuatan zalim. Karena mendatang- kan kemelaratan kepada orang yang melakukan mu’amalah, kalau ia tidak mengetahuinya. Dan kalau ia mengetahuinya, maka akan dilakukan penjualannya kepada orang Iain. Maka begitulah, eorang yang ketiga dan keempat. Dan terus-meneruslah pulang-pergi dari tangan-ketangan. Dan umumlah kemelaratannya dan meluaslah kerusakannya. Dan dosa serta bencana semuanya itu, adalah kembali kepadanya. Karena dialah yang membuka pintu tersebut,

Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم  . bersabda:
من سن سنة سيئة فعمل بها من بعده كان عليه وزرها ومثل وزر من عمل بها لا ينقص من أوزارهم شيئا
(Man sanna sunnatan sayyi-atan fa’amila bihaa man ba’dahu, kaana’alai- hi wizrahaa wa wizru man’amila bihaa, laa yanqushu min auzaarihim syai-aa).Artinya: “Barangsiapa berbuat jalan yang jahat, lalu dikerjakan jalan itu oleh orang yang kemudian daripadanya, niscaya dosa dari kejahatan itu keatas pundaknya dan seumpama dosa orang-orang yang berbuat dengan kejahatan itu, dimana tidak berkurang sedikitpun dari dosa mereka”. (1).

Dan berkata setengah ulama: “Berbelanja dengan sedirham palsu, adalah lebih berat dosanya daripada mencuri seratus dirham”. Karena mencuri itu, adalah sesuatu kema’siatan. Dan sudah sempurna dan habis sehingga itu saja. Dan berbelanja dengan dirham palsu, adalah suatu perbuatan bid’ah yang menonjol pada Agama dan suatu sunnah (jalan) yang jahat, yang dikerjakan oleh orang-orang sesudahnya. Maka dosa dari kejahatan itu keatasnya, sesudah ia meninggal sampai seratus atau dua ratus tahun. Sehingga lenyaplah dirham itu. Dan adalah tanggung jawabnya dengan kerusakan harta manusia dengan perbuatannya itu. Dan amat baiklah orang, apabila ia mati, lalu matilah bersamanya segala dosanya. Dan azab yang berkepanjangan bagi orang yang mati dan dosanya tinggal terus seratus dan dua ratus tahun atau labih banyak lagi, dimana dia diazabkan dengan dosa itu didalam kuburnya. Dan ia ditanyakan dari dosa itu, sampai kepada akhir kehancuran dari dosa tadi. Allah Ta’ala berfirman:

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ
(Wa naktubu maaqaddamuu wa aatsaa-rahum).Artinya: “Dan kami tuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas- bekas peninggalan mereka”. – S. Ya sin, ayat 12. Artinya: “Kami tuliskan juga apa yang mereka kemudiankan, dari bekas-bekas perbuatan mereka, sebagaimana Kami tuliskan apa yang telah mereka dahulukan mengerjakannya”.

1. Dirawikan Muslim dari Jarir bin Abdullah.
41

Dan seumpama itu, firmanNya:
يُنَبَّأُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ
(Yunabbaul-insaanu yauma-idzin bimaa qaddama wa akhkhar). Artinya: “Dihari itu diberitakan kepada manusia apa yang didahulukan- nya dan apa yang dikemudiankannya” – S. Al-Qiamah, ayat 13. Sesungguhnya yang dikemudiankan, ialah: bekas-bekas perbuatannya dari jalan yang jahat, yang dikerjakan oleh orang lain akan jalan yang jahat itu.
Dan hendaklah dimaklumi, bahwa pada pemalsuan uang itu ada lima hal:

1. Apabila dikembalikan kepadanya sesuatu dari uang palsu itu, maka seharuslah dilemparkannya kedalam sumur, sehingga tidak sampai kepadanya lagi tangan manusia. Dan hendaklah ia menjaga diri, daripada melakukannya lagi pada penjualan lain. Dan kalau dirusakkannya sehingga tidak mungkin menjadi alat penukar lagi, niscaya bolehlah yang demikian.
2. Haruslah saudagar itu mengetahui tentang keuangan, bukan untuk secara mendalam betul bagi dirinya, akan tetapi supaya ia tidak menyerahkan uang palsu kepada seseorang muslim dimana ia tidak mengetahuinya. Sehingga ia berdosa, dengan sebab keteledorannya tentang mempelajari ilmu pengetahuan tersebut. Tiap-tiap perbuatan itu ada pengetahuannya, dimana dengan pengetahuan itu, sempurnalah nasehat bagi kaum muslimin. Dari itu, haruslah berusaha memperoleh nya. Dan karena Seperti inilah, ulama terdahulu mempelajari tanda-tanda uang naqad, (emas dan perak). Karena memandang kepada Agama, bukan karena keduniaan mereka.
3. Kalau diserahkan dan diketahui oleh yang bermuamalah, bahwa itu uang palsu, niscaya ia tidak keluar dari dosa. Karena tidaklali diambilnya itu, selain untuk dilakukannya kepada orang lain dan tidak diberitahukan- nya kepada orang lain itu. Dan kalaulah tidak ia bercita-cita demikian, niscaya ia tidak ingin sekali-kali mengambilkannya. Sesungguhnya ia dapat melepaskan diri dari dosa kemelaratan yang tertentu kepada orang yang melakukan mu’amalah dengan dia saja.
4. Bahwa ia mengambii uang palsu itu, supaya ia dapat berbuat menurut sabda Nabi صلى الله عليه وسلم  .: “Dikasihi oleh Allah akan manusia, yang memudahkan penjualan dan yang memudahkan pembelian, yang memudahkan pembayaran dan yang memudahkan menerima bayaran”. (1).Maka ia termasuk kedalam barakah dari do’a ini, kalau ia bercita-cita mencampakkannya kedalam sumur. Kalau ia bercita-cita untuk melaku- kannya pada mu’amalah yang lain lagi, maka itu adalah kejahatan, yang telah dilakukan setan kepadanya dalam pameran kebajikan. Maka tidaklah ia teimasuk dalam bahagian orang yang memandang enteng pada me-menerima bayaran.

1. Dirawikan Al-Bukhari dari Jabir.
42

5. Kami maksudkan dengan uang palsu, ialah uang yang tak ada padanya perak sekali-kali, tetapi hanya celupan. Atau tak ada padanya emas, ya’ni: pada dinar.
Adapun yang ada padanya perak, kalau bercampur dengan tembaga, maka itu, adalah uang negara (uang yang .dikeluarkan oleh pemerintah). Para ulama berbeda pendapat mengenai mu’amalah dengan uang tersebut. Dan sebagian besar pendapat kita, memberi kesempatan padanya, apabila naqad itu uang negeri itu sendiri. Diketahui jumlah peraknya atau tidak diketahui. Kalau bukan uang negeri itu sendiri, niscaya tidak dibolehkan, kecuali apabila diketahui jumlah peraknya.
Kalau ada dalam hartanya sepotong, yang peraknya kurang dari uang negeri itu sendiri, maka haruslah ia menerangkan yang demikian kepada orang yang dilakukannya mu’amalah. Dan jangan ia melakukan mu’amalah, kecuali dengan orang yang tidak menghalalkan melakukan uang itu dalam jumlah naqad, dengan cara yang tidak tegas (jalan talbis) itu.
Adapun orang yang menghalalkan yang demikian itu, maka menyerahkan kepadanya, adalah pemaksaan terhadap orang itu kepada kebatalan. Maka yaitu, adalah seperti menjual buah anggur kepada orang yang diketahui akan membuatkannya khamar. Dan itu, adalah dilarang, menolong kepada kejahatan dan bersekutu kepada kejahatan. Dan menempuh jalan kebenaran dengan contoh yang seperti ini dalam perniagaan, adalah lebih sukar daripada ber-muadhabah (melaksanakan dengan rajin) segala ibadah sunat dan menjuruskan segala waktu baginya. Karena itulah, setengah ulama berkata: “Saudagar yang benar, adalah lebih utama pada sisi Allah Ta’ala dari seorang yang beribadah banyak”. Orang-orang yang terdahulu, amat berhati-hati dalam hal-hal yang seperti ini. Sehingga diriwayatkan dari sebahagian orang-orang yang tampil keme- dan perang sabili’llah, yang mengatakan: “Aku tunggangi kudaku, karena hendak memerangi kafir. Maka kudaku itu tak sanggup, lalu aku kembali. Kemudian kafir itu mendekati aku, lalu aku bangun membawa diri kali kedua. Maka kudaku pun tidak sanggup, lalu aku kembali lagi. Kemudian aku berangkat bangun kali ketiga, maka kudaku itu lari daripadaku, pada- hal aku belum pernah mengalami yang demikian dari kudaku itu. Maka kembalilah aku dengan perasaan sedih duduk menundukkan kepala dan hati yang hancur luluh. Karena aku tidak memperoleh kesempatan memerangi orang kafir dan apa yang telah menampak kepadaku tentang ting- kah laku kuda itu. Maka aku letakkan kepalaku pada tiang rumah dari bulu dan kudaku itu tidur.
Lalu aku bermimpi, seolah-olah* kuda itu berbicara dengan aku dan mengatakan kepadaku: “Demi Allah, engkau bermaksud memerangi kafir tiga kali. Dan engkau kemaren membeli rumput untukku dan engkau
43

bayar harganya dengan dirham palsu, dimana yang demikian itu, hendak- nya jangan sekali-kali terjadi selama-lanmanya”.Orang tadi meneruskan ceriteranya: “Maka aku terbangun dengan perasaan gundah. Lalu aku pergi kepada tukang rumput dan aku gantikan dirham itu”.

Maka inilah contohnya apa yang umum kemelaratannya itu. Dan hendaklah qiaskan kepada hal yang seperti ini akan lainnya!
BAHAGIAN KEDUA: yang tertentu kemelaratannya kepada yang melakukan mu’amalah.
Maka tiap-tiap yang membawa kemelaratan kepada yang melakukan mu’amalah adalah kezaliman. Dan sesungguhnya ke’adilan, ialah tidak mendatangkan kemelaratan kepada saudara sesama muslim. Dan penen- tuan yang melengkapi tentang keadilan itu, ialah: bahwa ia tidak mencintai saudaranya, selain apa yang dicintainya untuk dirinya sendiri. Maka tiap-tiap apa saja, kalau ia dimuamalahkan dengan demikian, lalu ia merasa sukar dan berat pada hatinya, maka seharuslah ia tidak akan bermuamalah orang lain dengan cara yang demikian. Tetapi seharuslah sama padanya, antara dirhamnya sendiri dan dirham orang lain. Sebahagian ulama berkata: “Barangsiapa menjual kepada saudaranya sesuatu dengan harga sedirham dan tidak pantas itu, kalau dibelinya untuk dirinya sendiri selain dengan harga lima danaq 1), maka sesungguhnya ia telah meninggalkan nasehat yang disuruh dalam bermu’amalah. Dan ia tidak mencintai saudaranya, akan apa yang dicintainya untuk dirinya sendiri”. Inilah secara tersimpul (secara global)!
Adapun terperincinya, maka pada empat perkara: tidak memuji barang yang dijualnya itu, dengan apa yang tidak sebenarnya, tidak menyembu-nyikan sekali-kali segala kekurangan dan sifat-sifatnya yang tersembunyi sedikitpun, tidak menyembunyikan timbangan dan jumlahnya sedikitpun dan tidak menyembunyikan harganya, dimana jikalau yang melakukan mu’amalah itu mengetahuinya, niscaya tidak akan meneruskan pembelian itu.

Yang Pertama tadi, yaitu  meninggalkan pujian – maka kalau disifat- kannya benda itu dengan sifat yang tak ada padanya, maka itu adalah bohong. Kalau sipembeli menerimanya, maka itu adalah penipuan dan penganiayaan, serta pendustaan. Dan kalau sipembeli itu tidak menerimanya, maka itu adalah pendustaan dan penjatuhan harga diri. Karena pendustaan yang dilakukan itu, kadang-kadang tidak mencederakan harga diri secara dhahir.
Kalau dipujinya barang itu, menurut yang sebenarnya, maka itu adalah kata-kata yang tidak disertakan pikiran yang murni dan berkata-kata dengan kata-kata yang tidak perlu. Dan ia akan diperkirakan (dihisab) ter hadap tiap-tiap kalimat yang terbit daripadanya, mengapakah ia mengucapkannya. Allah Ta’ala berfirman: “Tiada suatu perkataan yang diucap kan manusia, melainkan didekatnya ada pengawas, siap sedia (mencatat nya)”. S. Qaf, ayat 18. Kecuali dipujinya barang yang tidak dikenal oleh sipembeli, kalau tidak disebutkannya, seperti disifatkannya hal-hal yang tersembunyi dari budi-pekerti budak yang pria dan yang wanita dan hewan. Maka tidak mengapa menyebutkan sekedar yang ada padanya, tanpa berlebih-lebihan dan bertele-tele. Dan hendaklah maksudnya, supaya diketahui oleh saudaranya muslim.
Lalu ia ingin pada barang itu dan sampai hajat-maksudnya disebabkan yang demikian. Dan tiada seharuslah sekali-kali ia bersumpah terhadap yang demikian. Karena kalau ia berdusta, maka ia telah berbuat sumpah yang menjerumuskan dirinya. Dan sumpah itu, adalah termasuk dosa besar, yang menyebarkan kegoncangan, tanpa keberanian dengan kata-kata.
Dan kalau ia benar, maka telah dijadikannya Allah Ta’ala untuk menegakkan sumpahnya. Dan sesungguhnya ia telah berbuat jahat terhadap Allah. Karena dunia adalah lebih keji untuk dimaksudkan melakukannya dengan menyebut nama Allah, tanpa ada dlarurat.

Dan pada hadits tersebut: “Azab neraka bagi saudagar yang mengatakan: “Ya, demi Allah!” dan: “Tidak, demi Allah!”. Dan azab neraka bagi tukang, yang mengatakan: “Besok dan Lusa!” (1).

Dan pada suatu hadits, tersebut: “Sumpah palsu adalah menghabiskan barang perdagangan dan menghapuskan keberkatan”. (2). Abu Hurairah r.a. meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم  . dimana beliau bersabda: ‘Tiga orang, tidak dipandang oleh Allah kepada mereka pada hari kiamat: orang yang kasar lagi takabur, orang yang membangkit-bangkit dengan pemberiannya dan orang yang membelanjakan barangnya dengan bersumpah”. (3).

Apabila pujian kepada barang dengan benar itu dimakruhkan, dari segi pujian itu hal yang tidak perlu, yang tidak menambahkan rezeki, maka tidaklah tersembunyi beratnya perhatian tentang persoalan sumpah. Diriwayatkan dari Yunus bin ‘Ubaid dan dia adalah penjual sutera, bahwa orang mencari sutera daripadanya untuk dibeli. Lalu dikeluarkan oleh budaknya yang buruk dan yang baik dari sutera itu. Budak itu memandang kepadanya dan berkata: “Wahai Allah, Tuhanku! Anugerahilah kami rezeki!”

Maka ia berkata kepada budak nya: “Bawalah kembali sutera ini ketempatnya!” Dan tidak dijualnya. Ia takut, bahwa yang demikian itu, sindiran pujian kepada barang yang diperdagangkan itu.
1. Menurut Al-Iraqi, beliau tidak peraah menjumpai hadits ini.
2. Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.
3. Dirawikan Muslim dari Abu Huarairah.

1. Satu dirham, adatah enam danaq. Perkataan “danaq” berasal dari bahasa Persia – (Pent).

Leave a Reply

Or