Keilmuan

KITAB ADAB BERUSAHA DAN MENCARI PENGHIDUPAN -Ihya Ilumiddin Iman Al Ghazali 4

Sesungguhnya halal yang demikian itu bagi mereka, apabila mereka penat dengan banyaknya pulang pergi atau dengan banyaknya perkataan pada penyusunan urusan mu’amalah. Kemudian, dalam pada itu, mereka tidak berhak selain dari ongkos yang patut (ujratu’l-mitsl). Adapun apa yang disepakati oleh para penjual, maka itu, adalah /alim dan tidaklah itu diambil dengan kebenaran.

2. Bahwa penyewaan itu tidak mengandung untuk kesempurnaan suatu benda yang dimaksudkan. Maka tidaklah boleh penyewaan batang anggur karena kemanfa’atannya, penyewaan hewan karena susunya dan penyewaan kebun karena buah-buahannya.Dan bolehlah menyewa seorang wanita penyusu dan adalah susunya menjadi pengikut, karena tidak mungkin memisahkannya.

Dan demikian juga, dima’alfan (diberi tasamuh), tinta sipenulis dan benang sipenjahit. Karena keduanya itu tidak dimaksudkan diatas tenaga sipenulis dan sipenjahit itu.

3. Adalah pekerjaan itu sanggup diserahkan pada kenyataan dan Agama. Maka tidaklah sah penyewaan tenaga orang lemah untuk sesuatu pekerjaan yang tidak disanggupinya. Dan tidaklah sah penyewaan tenaga orang bisu untuk mengajar dan Iain-lain sebagainya.

Dan apa yang haram dikerjakan, maka Agama melarang penyerahannya. Seperti menyewa tenaga orang untuk mencabut gigi yang sehat. Atau untuk memotong anggota badan yang tidak diperbolehkan oleh Agama memotongnya. Atau menyewa tenaga wanita yang sedang berhaid untuk menyapu masjid. Atau menyewa seorang guru sihir untuk mengajarkan sihir atau perbuatan keji. Atau menyewa tenaga isteri orang untuk menyusukan anak kecil, tanpa izin suaminya. Atau menyewakan tenaga penggambar .untuk menggambar binatang-binatang. Atau menyewakan tenaga tukang logam untuk membuat bejana-bejana dari emas dan perak. Maka semuanya itu, adalah batal.
4. Adalah perbuatan itu tidak menjadi kewajiban dari orang yang disewa- kan tenaganya. Atau tidaklah termasuk perbuatan yang tidak boleh digantikan dari orang yang menyewa tenaga itu. Maka tidak dibolehkan mengambil upah pada jihad dan segala ibadah yang lain yang tidak boleh digantikan dengan orang lain. Karena perbuatan itu tidak akan terlepas dari yang menyewa tenaga itu. Dan dibolehkan pada hajji, memandikan mait,mengorek kuburan, menguburkan orang mati dan membawa jenazah kepekuburan. ,

Dan mengenai pengambilan ongkos (upah) untuk mengimami shalat tara- wih, untuk melakukan adzan, untuk memberi pengajaran dan mengajari AI-Qur-an maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat diantara para alim ulama.
33

Adapun mengongkosi untuk mengajari sesuatu persoalan tertentu atau mengajari suatu surat dari Al-Qur-an, untuk orang tertentu, maka itu adalah sah.

5. Adalah perbuatan dan kemanfa’atan itu diketahui. Maka penjahit itu diketahui perbuatannya dengan kain dan pengajaran Al-Qur-an diketahui perbuatannya dengan menentukan surat dan batasnya. Dan pembawa hewan itu, diketahui dengan jumlah yang dibawa dan jaraknya. Dan tiap-tiap yang menimbulkan permusuhan menurut adat kebiasaan, maka tidaklah diperbolehkan melengahkannya. Dan penjelasan itu, adalah panjang.

Dan sesungguhnya kami sebutkan sekedar ini, untuk diketahui akan hukum-hukum yang nyata tegas dan dapat diperhatikan pada tempat-tempat yang menimbulkan kesulitan, lalu dapat ditanyakan. Karena sesungguhnya penyelidikan mendalam itu, adalah tugas mufti (yang memberi fat- wa), bukan tugas orang kebanyakan (orang awwam).

“AQAD KELIMA: penyerahan modal untuk diperniagakan (qiradl)
Hendaklah dijaga pada qiradl ini, tiga sendi (rukun):
Sendi Pertama: modal. Syaratnya modal itu naqad (emas dan perak yang telah dijadikan uang), dimaklumi jumlahnya dan diserahkan kepada yang akan mengerjakannya dalam perniagaan Maka tidak diperbolehkan qiradl pada fulus (uang-uang kecil yang diper- buat bukan dari naqad) dan pada barang-barang. Karena perniagaan itu menjadi sempit padanya.

Dan tidak diperbolehkan qiradl pada suatu timbunan dirham. Karena kadar keuntungan, tidak jelas padanya. Dan kalau disyaratkan oleh pemi- lik modal supaya modal itu ditangannya, maka tidak dibolehkan. Karena dengan demikian, menyempitkan jalan perniagaan.

Sendi Kedua: keuntungan. Hendaklah keuntungan itu diketahui pembaha- giannya dengan disyaratkan bagi pemilik modal sepertiga atau seperdua atau berapa yang dikehendakinya.

Kalau pemilik modal itu mengatakan: “Untuk kamu, keuntungan seratus dan sisanya bagiku”, niscaya tidak boleh. Karena kadang-kadang keuntungan itu tidak lebih dari seratus. Maka tidak boleh menentukannya dengan jumlah tertentu. Tetapi hendaklah dengan jumlah yang umum. Sendi ketiga: perbuatan yang menjadi tugas yang melaksanakan famil). Dan syaratnya, bahwa adalah perniagaan itu, tidak menyempitkan kepada ‘amil, dengan penentuan barang dan waktu. Kalaa disyaratkan, supaya dengan modal itu, dibelikan binatang ternak, untuk mencarikan anaknya. lalu anaknya itu dibagi-bagikan diantara kedua orang yang melakukan perjanjian qiradl. Atau dibelikan gandum untuk dibuat roti, lalu keuntungan dari roti itu dibagi-bagikan diantara keduanya. Maka tidak sah. Karena qiradl adalah diizinkan pada perniagaan, yaitu: jual dan beli dan
34
sesuatu yang menjadi kepentingan yang dua ini saja. Dan yang itu, adalah pekerjaan: ya’ni: membuat roti dan memelihara binatang ternak. Kalau dipersempitkan kepada si-amil dan disyaratkan, bahwa dia tidak membeli, kecuali dari si Anu atau tidak berniaga, kecuali tentang sutera merah atau disyaratkan sesuatu yang menyempitkan pintu perniagaan, niscaya ‘aqad qiradl itu batal.

Kemudian. manakala ‘aqad itu telah dilaksanakan, maka si-‘amil (pekerja pada giradl) itu, adalah merupakan: wakil. Maka dia bekerja dengan gembira. sebagai wakil-wakil dalam perusahaan.

Manakala sipemilik modal bermaksud melepaskan ikatan, maka dia dapat berbuat demikian. Dan apabila perjanjian itu telah dilepaskan pada masa keadaan harta seluruhnya telah menjadi uang tunai, niscaya jelaslah cara membaginya. Dan kalau ketika itu, masih bersipat barang-barang dan tak ada keuntungan padanya, niscaya barang-barang itu dikembalikan kepada sipemilik modal. Dan tiadalah sipemilik modal itu memaksakan si-‘amil untuk mengembalikan barang-barang itu kepada uang tunai (naqad). Karena ikatan perjanjiaii telah terlepas dan dia tidak lagi dapat mewajib- kan sesuatu kepada si-‘amil.

Kalau ‘amil berkata: “Aku jual barang-barang itu!”, sedang si pemilik modal menolak, maka yang dituruti, ialah pendapat pemilik modal. Kecuali apabila si-‘amil memperoleh tanda-tanda yang jelas ada keuntungan pada modal.

Manakala keuntungan itu ada. maka si-‘amil harus menjual sejumlah barang-barang yang berasal dari modal, dengan harga dari jenis modal dahulu. Tidak dengan naqad yang lain (kalau dahulu dengan modal emas, maka dijual dengan emas dan kalau dengan perak, maka dijual dengan perak). Sehingga berbedalah yang lebih itu menjadi keuntungan. Lalu ber- kongsiiah keduanya pada keuntungan itu. Dan tidaklah ‘amil itu menjual barang yang lebih dari pembeliannya dengan modal itu. Manakala telah datang akhir tahun, maka haruslah mereka memperhati- kan nilai harta yang diperniagakan itu, untuk menunaikan zakat. Apabila telah menampak sesuatu keuntungan, maka menurut yang lebih sesuai dengan qias, bahwa zakat bahagian. si-‘amil itu diatas si-‘amil sendiri. Dan si-‘amil itu memiliki keuntungan dengan menampaknya keuntungan itu.

Dan tidak boleh si-‘amil berjalan jauh dengan membawa harta qiradl, tanpa izin si-pemilik modal. Kalau diperbuatnya juga, niscaya perbuatan- nya itu sah. Tetapi apabila ia meneruskan, maka ia menanggung segala benda bersama dengan harganya seluruhnya. Karena penganiayaannya dengan dibawanya harta qiradl itu, menjalar sampai kepada harga dari barang yang dibawanya.

Kalau si-‘amil itu berjalan jauh dengan keizinan sipemilik modal niscaya diperbolehkan. Dan ongkos membawa serta menjaga harta itu, adalah
35
atas harta qiradl. Sebagaimana ongkos timbang, sukat dan angkut yang tiada dibiasakan oleh si-saudagar sendiri akan barang yang seperti itu, adalah terpikul atas modal.

Adapun membuka kain, melipatnya dan pekerjaan yang sedikit yang biasa dilakukan, maka tidaklah boleh si-‘amil itu mengeluarkan ongkos, yang terpikul keatas modal.

Dan diatas si-‘amil sendiri, perbelanjaan dan tempat tinggalnya bila dine- gerinya sendiri. Dan tidak menjadi kewajibannya, sewa gudang. Dan manakala ia berangkat berjalan jauh untuk harta qiradl, maka perbelan- jaannya dalam perjalanan itu, adalah atas harta qiradl. Dan apabila telah kembali, maka haruslah ia mengembalikan sisa-sisa alat perjalanan, seperti piring, kain alas makanan dan lain-lain sebagainya.

‘AQAD KEENAM: perkongsian.
Yaitu: empat macam. Tiga daripadanya batal, yaitu:

Pertama: perkongsian al-mufawadlah, namanya. Yaitu: kedua orang yang berkongsi itu berkata: “Kita berserah-serahan diri, supaya kita berkongsi dalam tiap-tiap sesuatu yang mendatangkan keuntungan bagi kita dan kerugian bagi kita”. Dan harta keduanya berbeda. Maka perkongsian yang seperti ini batal.

Kedua: perkongsian al-abdan (tubuh) namanya, yaitu: keduanya mensya-ratkan perkongsian pada upah pekerjaannya. Maka perkongsian inipun batal.

Ketiga: perkongsian al-wujuh (muka) namanya, yaitu: bila salah seorang daripada keduanya disegani orang dan kata-katanya didengar. Maka dari pihaknya menggunakan perkataan. Dan dari pihak yang seorang lagi, bekerja. Maka ini juga batal.

Dan yang sah, ialah ikatan perkongsian yang keempat, yang dinamakan: perkongsian: al-‘inan, yaitu: bercampur harta keduanya, sehingga sukar membedakan diantara keduanya, kecuali dengan dibagi. Dan masing-ma- sing mengizinkan kepada temannya untuk melaksanakan usaha pada harta itu. Kemudian, ketetapan dari keduanya, membagikan keuntungan dan kerugian menurut dua harta modal itu.

Dan tidak dibolehkan mengobah yang demikian dengan dibuat syarat. Kemudian, dengan diasingkan dari harta itu, yang tercegah melaksanakan usaha dari harta yang diasingkan. Dan dengan pembagian, yang terpisah kepunyaan yang seorang dari kepunyaan lainnya.

Dan yang sah (ash-shahih), ialah diperbolehkan mengadakan ikatan perkongsian pada barang-barang yang dibeli. Dan tidak disyaratkan naqad (uang tunai dari emas dan perak), kecuali pada qiradl. Maka sekedar ini dari Ilmu fiqh, adalah wajib dipelajari oleh tiap-tiap orang yang berusaha. Kalau tidak, niscaya ia akan terjerumus kepada yang haram, tanpa. disadarinya.

36

Adapun mu’amalah dengan tukang daging, tukang roti dan tukang sayur. maka tidak dapatlah melepaskan diri daripadanya, baik sebagai seorang pengusaha atau bukan pengusaha. Dan kecederaan padanya, adalah dari tiga segi: dari segi melengahkan syarat-syarat berjual-beli. Atau melengahkan syarat-syarat pembelian dengan pemesanan. Atau mencukupkan dengan cara beri-memberi saja. Karena adat-kebiasaan, adalah berlaku dengan menuliskan garis-garis terhadap mereka, berdasarkan keperluan tiap-tiap hari. Kemudian diperhitungkan pada tiap-tiap waktu, lalu diper- kirakan, menurut apa yang terjadi itu dengan rela-merelakan. Dan yang demikian itu, termasuk apa yang kita pandang akan penetapannya dengan diperbolehkan karena kepentingan. Dan penyerahan itu, dianggap untuk membolehkan penggunaan, serta menunggu harganya sebagi tukaran (‘iwadl)-nya. Lalu halallah memakannya. Tetapi wajib menjamin pemba- yaran dengan memakan itu. Dan harus membayar menurut nilainya kalau hilang – pada hari kehilangannya. Lalu terkumpulah dalam tanggungan- nya segala harga nilai itu.

Apabila terdapat rela-merelakan dalam jumlah mana pun juga, maka seharuslah diminta dari mereka yang bermu’amalah itu, melepaskan tuntutan secara mutiak. Sehingga tidak ada lagi suatu janjipun, kalau terdapat berlebih-kurang tentang penilaian dibelakang hari. Maka inilah yang harus dirasa mencukupi. Karena memberatkan timbangan harga untuk tiap-tiap keperluan, tiap-tiap hari dan tiap-tiap jam, adalah pemberatan yang berlebih-lebihan. Dan begitu pula pemberatan ijab qabul serta menentukan harga sampai kepada jumlah yang amat sedi- kitpun, adalah menimbulkan kesulitan. Dan apabila banyak dari masing-masing macamnya, niscaya mudahlah menilaikannya. Kiranya Allah mencurahkan taufiqNya kepada kita!
37

BAB KETIGA: tentang penjelasan keadilan dan penjauhan kezaliman pada mu’amalah.
Ketahuilah kiranya, bahwa mu’amalah itu kadang-kadang berlaku diatas cara, yang ditetapkan oleh mufti dengan sah dan berlakunya. Tetapi mengandung kezaliman yang dikerjakan oleh yang melakukannya mu’amalah itu, kerana dimarahi Allah Ta’ala. Sebab, tidaklah tiap-tiap larangan itu menghendaki kebatalan ‘aqad (kebatalan ikatan perjanjian). Dan kezaliman- an ini, dimaksudkan, ialah: yang mendatangkan kemelaratan kepada orang lain. Maka kezaliman itu, terbagi kepada: yang umum melaratnya dan kepada: yang khusus kepada yang melakukan mu’amalah saja.
BAHAGIAN PERTAMA: mengenai yang umum melaratnya. Dan yaitu:bermacam-macam.
Macam pertama: ihtikar. Maka penjual makanan, yang menyimpan makanannya, menunggu mahal harganya, adalah kezaliman yang umum. Dan yang melakukan demikian, adalah tercela pada Agama. Rasulu’llah صلى الله عليه وسلم  . bersabda:

من احتكر الطعام أربعين يوما ثم تصدق به لم تكن صدقته كفارة لاحتكاره
(Manih-takaral adzhiima arba’iina yauman tsumma tashaddaqa bihi lam takun shadaqatuhu kaffaaratan lihti-kaarih).Artinya: “Barangsiapa menyimpan makanan empatpuluh hari, kemudian ia bersedekah dengan makanan itu, niscaya tidaklah sedekahnya itu menjadi kafarat bagi penyimpanan (ihtikar)nya”. (1).

Dan Ibnu Umar meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم . bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa menyimpan makanan empat puluh hari, maka terlepaslah ia daripada Allah dan terlepaslah Allah daripadanya”. (2). Dan ada yang mengatakan: “Seolah-olah ia membunuh manusia semuanya”. Dan dari Ali r.a.: “Barangsiapa menyimpan makanan empatpuluh hari, niscaya kesat hatinya”. Dan dari Ali r.a. juga: “Sesungguhnya dibakar makanan orang yang melakukan ihtikar itu, dengan api neraka”. Dan diriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم . tentang keutamaan meninggalkan ihtikar, yang bersabda: “Barangsiapa mendatangkan makanan, lalu menjualkannya dengan harga hari itu, maka seolah-olah ia bersedekah dengan makanan itu”. (3).
1.Dirawikan Abu Mansur Ad-Dailami dari Ali dafi Al-Khatib dari Anas, dengan sanad dla’if.
2.Dirawikan Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad baik
3.Dirawikan Ibnu Masdawaih dari Ibnu Mas’ud. dengan sanad dla’if.

Leave a Reply