Keilmuan

KITAB ADAB BERUSAHA DAN MENCARI PENGHIDUPAN -Ihya Ilumiddin Iman Al Ghazali 3

.26

Adapun dalam hal yang tersebut, ia telah mengetahui akan rela yang mempunyai barang, dengan tanda bukti keadaan, ketika penyerahan itu. Sehingga tidak jauhlah untuk dijadikan perbuatan itu, setagai bukti kepada keizinan, bahwa hutang itu akan diterimanya dengan sempurna, dari harga apa yang diserahkannya itu. Sehingga adalah ia mengambil haknya.

Tetapi dalam tiap keadaan itu pihak sipenjual, adalah lebih kabur. Karena apa yang telah diambilnya, kadang-kadang dikehendaki oleh sipemiliknya, hendak berbuat sesuatu padanya. Dan tiada mungkin ia memiliki apa yang diambilnya itu, kecuali apabila telah rusaklah benda makanannya dalam tangan sipembeli. Kemudian kadang-kadang ia menghendaki kepada pengulangan kembali maksud memiliki. Kemudian adalah ia memiliki itu dengan kerelaan semata-mata, yang diperolehnya dari perbuatan, bukan dari perkataan.

Adapun pihak sipembeli makanan itu, dimana dia tidak bermaksud selain dari makan, maka adalah soal mudah. Karena yang demikian itu, diperbolehkan dengan pembolehan yang dipahami dari peri-hal keadaan. Tetapi, kadang-kadang harus dari musyawarah, bahwa tamu itu menanggung akan apa yang telah dirusakkannya.

Dan tanggungan itu gugur daripada tamu tadi, apabila sipenjual telah memiliki akan apa yang diambilnya dari sipembeli. Maka gugurlah tanggungan itu, seperti orang yang membayar hutangnya dan yang menanggung dari hutang itu.

Maka inilah, apa yang kami lihat tentang kaidah beri-memberi tentang kesulitannya. Dan ilmu yang sebenarnya, adalah pada sisi Allah. Dan yang tersebut itu adalah kemungkinan-kemungkinan dan persangkaan-persangkaan yang telah kami tolak. Dan tidak mungkin men- dasarkan fatwa, selain diatas sangkaan-sangkaan tersebut. Adapun orang wara’, maka seharuslah mencari fatwa dari hatinya sendiri dan menjaga diri dari tempat-tempat syubhat (tempat-tempat yang meragukan).

‘AQAD KEDUA: ‘aqad riba.
Riba itu telah diharamkan oleh Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala sangat mengeraskan tentang riba itu. Dan haruslah menjaga diri dari riba, atas orang-orang yang pekerjaannya menukar uang, yang melakukan mu’ama- lah atas dua macam uang dan atas orang-orang yang melakukan mu’ama- lah pada makanan-makanan. Karena tak ada riba itu, selain pada uang (naqd) atau pada makanan.

27

Dan haruslah penukar-penukar uang (ash-shairafi, menjaga diri daripada penangguhan dan kelebihan.
Adapun penangguhan, yaitu: ia tidak menjual sesuatu dari zat dua mata uang, dengan sesuatu dari zat dua mata uang itu, kecuali dengan tunai (ya- dan biyadin). Yaitu: bahwa berlaku terima-menerima pada tempat pem- belian itu. Dan inilah artinya penjagaan diri dari penangguhan itu! Penyerahan oleh penukar-penukar uang akan emas kegudang pembikinan uang dan pembelian dinar-dinar yang sudah dibikin menjadi uang, adalah haram dari segi penangguhan. Dan dari segi, bahwa biasanya berlakulah padanya berlebih kurang (tafadlul), karena tidak dikembalikan uang yang sudah dibikin itu, menurut timbangannya semula. Adapun kelebihan, maka haruslah menjaga diri dalam tiga hal:

1. Pada penjualan yang pecah dengan yang tidak pecah. Maka tidaklah harus melakukan mu’amalah pada keduanya, selain bersamaan diantara keduanya.

2. Pada penjualah yang bagus dengan yang buruk. Maka tidaklah wajar membeli yang buruk dengan yang bagus yang berkurang timbangannya atau menjual yang buruk dengan yang bagus yang lebih tinggi timbangannya.Ini, saya maksudkan, apabila menjual emas dengan emas dan perak dengan perak.Kalau kedua jenis itu berlainan, maka tidak mengapa tentang berkelebihan.

3. Pada yang bercampur dari emas dan perak, seperti dinar yang bercam- pur dari emas dan perak. Kalau takaran emas tidak diketahui sama sekali, niscaya mu’amalah itu tidak sah sekali-kali. Kecuali apabila yang demikian itu, adalah uang yang berlaku dalam negeri. Maka kita perbolehkan bermu’amalah dengan uang tersebut, apabila tidak berhadapan dengan se- sama uang.

Begitu pula dirham yang bercampur dengan tembaga; jikalau tidak menjadi uang yang berlaku dalam negeri, niscaya tidaklah sah bermu’amalah dengan dia. Karena yang dimaksud daripadanya, ialah potongan yang dihancurkan dari emas dan perak. Dan potongan itu tidak diketahui. Dan kalau telah menjadi uang yang berlaku dalam negeri, maka kita perbolehkan dalam bermu’amalah. Karena diperlukan dan karena potongan emas dan perak itu, telah keluar daripada dimaksudkan mengeluarkannya dari uang itu.Tetapi tidaklah sekali-kali berhadapan dengan sesama potongan emas dan perak itu.

Begitu pula, tiap-tiap perhiasan yang tersusun dari campuran emas dan perak. Maka tidaklah dibolehkan membelinya, tidak dengan emas dan tidak dengan perak. Tetapi, seharuslah dibeli dengan benda yang lain. Hal itu kalau takaran emas padanya dimaklumi. Lain halnya apabila benda itu

28

dicelup dengan emas, sebagai celupan yang tidak menghasilkan emas yang dimaksud. ketika diletakkan diatas api.
Maka dalam hal ini, bolehlah menjualnya dengan yang sama dari potong- an yang dihancurkan dari emas dan perak itu, dengan apa saja yang dimaksudkan dari yang bukan potongan yang dihancurkan tadi. Dan begitu pula, tidak dibolehkan bagi penukar-penukar uang, membeli kalung. yang ada padanya batu-batu berharga dan emas, dengan emas. Dan tidak boleh juga menjualnya. Tetapi dibolehkan membeli dan menjual itu, bila dibayar dengan perak, dengan tunai, kalau tak ada pada kalung itu perak.
Dan tidak dibolehkan membeli kain yang ditenuni dengan emas, yang berhasil daripadanya emas dimaksud, ketika diletakkan diatas api, dengan pembayarannya emas. Dan dibolehkan bila pembayarannya dengan perak dan lainnya.
Adapun orang-orang yang melakukan mu’amalah tentang makanan-ma- kanan, maka haruslah terima-menerima pada tempat jual-beli itu, berlain- ankah diantara jenis makanan yang dijual dan dibeli atau tidak berlainan. Kalau jenisnya satu, maka haruslah terima-menerima dan menjaga persamaan (al-mumatsalah) .
Dalam hal ini yang dibiasakan, ialah mu’amalahnya tukang daging, dengan diserahkan kepadanya kambing. Dan dengan kambing itu dibelikan daging, secara tunai (naqdan) atau ditangguhkan (nasi-ah). Maka itu adalah haram.
Dan muamalahnya tukang roti, dengan diserahkan kepadanya gandum dan dibelikan dengan gandum itu roti, secara ditangguhkan atau tunai. Maka itu adalah haram.
Dan mu’amalahnya pembuat-pembuat minyak, dengan diserahkan kepadanya biji-bijian, biji simsim dan zaitun, untuk diambil daripadanya minyak. Maka itu adalah haram.

Dan begitu pula mu’amalah tukang susu, yang diserahkan kepadanya .susu, untuk diambilkan daripadanya susu kental, minyak samin, susu keras dan bahagian-bahagian susu yang lain, maka itupun haram. Dan tidak dijualkan makanan dengan makanan yang bukan jenisnya, kecuali dengan tunai. Dan tidak boleh dijualkan dengan yang sejenis, kecuali dengan tunai dan sama.

Dan tiap-tiap yang terbuat dari barang makanan, maka tidak boleh diper- juai-belikan, baik sama atau leJbih-kurang. Sehingga tidaklah dijual tepung roti dan tepung yang paling halus, dengan gandum. Dan tidak diperjual belikan air yang diperas dari buah anggur yang telah dimasak pada api (addibs), cuka dan air yang diperas dari buah anggur, dengan buah anggur kering (‘inab) dan tamar. Dan tidak diperjual-belikan minyak samin, susu kental, susu masam, air yang menetes dari susu dan susu yang sudah keras, dengan susu.
29

Dan persamaan (al-mumatsalah), tidaklah mendatangkan faedah, apabila makanan itu tidak ada dalam keadaan sempurna penyimpanannya . Maka tidaklah dijual ruthab (buah anggur yang belum kering) dengan ruthab dan ‘inab (buah anggur yang sudah kering) dengan ‘inab, baik lebih-ku- rang atau sama.
Maka inilah kumpulan yang kira-kira mencukupi tentang difinisi (ta’rif) penjualan, serta peringatan untuk diketahui oleh saudagar, tempat-tempat yang merusakkan. Sehingga ia mencari fatwa ulama apabila ia ragu dan samar tentang sesuatu daripadanya.
Apabila ini tidak diketahuinya, niscaya ia tidak memperoleh pamahaman bagi tempat-tempat pertanyaan. Lalu berkecamuklah riba dan haram, se- dang ia tidak mengetahuinya.

‘AQAD KETIGA: pembelian dengan pemesanan.
Hendaklah saudagar pada pembelian dengan pemesanan ini menjaga sepuluh syarat:

Pertama: modal itu diketahui dengan yang menyamairiya, sehingga jikalau sukar menyerahkan benda yang dipesan itu, niscaya mungkinlah dikemba- likan nilai dari modal itu.
Kalau pemilik modal itu menyerahkan segenggam dirham, tanpa dihitung dan ditimbang, dalam karung gandum, niscaya tidaklah sah menurut salah satu qaul (salah satu pendapat ulama).

Kedua: bahwa modal itu diserahkan dalam majlis ‘aqad (tempat diadakan ikatan perjanjian), sebelum perpisahan. Kalau keduanya berpisah, sebelum modal diterima, niscaya perjanjian itu terlepas dengan sendirinya. Ketiga: bahwa yang dipesan itu termasuk barang yang mungkin dikenal sifat-sifatnya, seperti: biji-bijian, hewan, logam, kapas, bulu wol, sutera, susu, daging, benda-benda yang dipergunakan oleh pembuat-pembuat minyak wangi dan Iain-lain sebagainya.

Dan tidak dibolehkan ma’jun, barang yang tersusun bercampur dan yang berlain-Iainan bahagian-bahagiannya, seperti barang-barang bikinan kasar, tombak yang diperbuat, sepatu pansus, alas kaki yang berlainan bahagian dan perbuatannya dan kulit binatang.

Dan boleh pemesanan itu pada roti. Dan apa yang terjadi pada roti tentang berbeda takaran garam dan air dengan banyaknya pemasakan dan sedikitnya, adalah dima’afkan dan tidak diperhitungkan benar. Keempat: bahwa dilakukan penjelasan tentang sifat dari barang-barang yang dapat disifatkan itu dengan seteliti-telitinya. Sehingga tjada tinggal suatu sifat pun, yang menimbulkan berlebih-kurang nilai, dimana tidak ti- pu-menipu manusia dengan hal yang seperti itu, melainkan disebutkannya. Karena penyifatan itu, adalah menyerupai melihat dengan mata, dalam hal penjualan.

Kelima: bahwa lama waktunya diketahui, kalau perjanjian itu memakan waktu. Maka tidaklah ditangguhkan sampai kepada menyabit dan kepada
30
mendapat hasil buah-buahan. Tetapi ditangguhkan kepada beberapa bulan dan hari yang tertentu. Karena mendapat buah-buahan itu kadang-kadang terdahulu dan kadang-kadang terkemudian.

Keenam: adalah benda yang dibeli dengan pesanan itu, dapat diserahkan pada waktunya dan dipercayai adanya pada waktu itu biasanya. Maka tiada wajarlah dilakukan ikatan perjanjian tersebut pada anggur kering finab), sampai kepada waktu yang tidak akan diperoleh. Dan begitu pula buah-buahan yang lain.

Kalau biasanya ada dan datanglah waktu yang ditangguhkan itu, lalu tidak sanggup diserahkan, disebabkan sesuatu bencana, maka boleh diminta tangguh lagi-kalau mau-atau dilepaskan perjanjian dan dikembalikan modal kalau mau.
Ketujuh: bahwa disebutkan tempat penyerahan, mengenai hal yang berlainan maksud dengan tempat itu, supaya tidak mengakibatkan pertengkaran nanti.
Kedelapan: bahwa perjanjian itu tidak tergantung dengan sesuatu yang di- tentukan. Kalau disebutkan: dari gandum tanaman ini atau buah-buahan kebun ini-maka yang demikian itu membatalkan perjanjian tersebut selaku hutang. Tetapi, kalau ditambah: buah-buahan negeri itu atau kampung yang besar itu maka yang demikian itu tidak merusakkan perjanjian tersebut.
Kesembilan: Bahwa tidaklah dilakukan perjanjian itu pada benda yang bernilai tinggi dan sukar didapat, seperti permata yang disifatkan dengan sifat, yang sukar adanya seperti itu atau budak wanita yang sangat cantik bersama anaknya atau yang lain dari itu, yang tidak dapat disanggupi biasanya.
Kesepuluh: bahwa tidak diikat perjanjian ini pada makanan, manakala modal (yang akan menjadi harganya) itu, makanan, sama ada dari yang sejenis atau tidak sejenis. Dan tidak diikat perjanjian itu pada naqad (emas dan perak), apabila modal itu naqad. Dan teiah kami terangkan ini pada “Riba” dahulu,

AQAD KEEMPAT: sewa-menyewa.
Sewa-menyewa mempunyai dua sendi (rukun): sewa dan kemanfa’atan. Adapun ‘aqid (yang mengadakan ikatan: penyewa dan yang mempersewa- kan) dan lafadh, maka dipegang apa yang telah kami terangkan dahulu pada: jual-beli. Dan sewa, adalah seperti harga. Maka seharuslah bahwa itu diketahui dan diterangkan sifatnya dengan segala apa yang telah kami syaratkan dahulu pada jual-beli, kalau sewa itu merupakan benda. Dan kalau merupakan hutang, maka seharuslah diketahui sifatnya dan jumlahnya. Dan hendaklah dijaga dari hal-hal yang berlaku sepanjang adat kebiasaan. Yaitu: seperti mempersewakan rumah, dengan membangunnya (memperbaikinya). Maka yang demikian itu, adalah batal.

31

Karena kadar pembangunan iiu tidak diketahui. Kalau ditentukan bebcra- pa dirhani dan disyaratkan kepada sipenyewa, untuk dipergunakannya kepada pembangunan itu. niscaya tidak diperbolehkan. Karena perbuatannya dalam menyerahkan kepada pembangunan itu. adalah tidak diketahui. Dan scbahagian dari yang berlaku menurut adat kebiasaan. ialah menyewa tenaga (mengongkosi) tukang kulit hewan yang disembelih. dengan diambilnya kulit sesudah dikupasnya. Dan menyewa tenaga pembawa bangkai dengan kulit bangkai ongkosnya dan menyewa tenaga tukang tumbuk dengan kulit atau scbahagian tepung untuk ongkosnya, maka itu batal hukumnya.
Dan begitu pula segala sesuatu yang terletak hasilnya dan berpisahnya, atas perbuatan orang yang diongkosi (yang disewakan tcnaganya). Maka tidaklah boleh dijadikan untuk upah.

Dan sebahagian dari yang berlaku menurut adat kebiasaan, ialah menentukan pada sewa-menyewa rumah dan toko, jumlah sewanya. Kalau berkata pemiliknva: “Untuk tiap-tiap bulan, sewanya satu dinar” dan tidak ditentukannya jumlah bulan penyewaan, niscaya adalah lamanya tidak diketahui dan tidaklah sah penyewaan.

Rukun kedua: kemanfa’atan yang dimaksudkan dengan penyewaan. Yaitu perbuatan saja dari orang yang disewakan tenaganya, kalau adalah perbuatan itu diperbolehkan dan diketahui. yang menghubungi pekerja itu pudama sebagai tanggungan. Dan yang membawa kepada kepatuhan sese- orang kepada orang lain. Maka bolehlah disewakan tenaga orang itu. Maka jumlah cabang-cabang dari bab ini. termasuk dibawah ikatan tersebut. Tetapi kami tidak akan memanjangkan uraiannya. Sesungguhnya telah kami memperpanjangkan pembahasannya dalam kitab-kitab fiqh. Sesungguhnya yang kami singgung disini, ialah: kepada persoalan-persoal- an yang merata bahayanya. Maka hendaklah dijaga mengenai pekerjaan dari orang yang disewakan tenaganya, akan lima perkara: 1. Adalah pekerjaan itu bernilai, dengan ada padanya tanggungan dan ke- payahan. Kalau menyewa makanan untuk dihiasi toko atau pohon-pohon- an untuk dikeringkan kain padanya atau uang-uang dirham untuk dihiasi toko, maka tidak diperbolehkan. Karena segala kemanfa’atan tersebut, berlaku seperti sebiji simsim dan sebiji gandum dari benda-benda. Dan yang demikian itu, tidak diperbolehkan penjualannya. Dan adalah itu, seperti memandang pada cermin orang lain, meminum dari sumurnya, bernaung pada dindingnya dan mengambii manfa’at dari apinya. Dan karena inilah, kalau menyewa tenaga seorang penjual, untuk ia berkata-kata dengan kata-kata yang membuat laku barangnya, niscaya tidak diperbolehkan.

Dan apa yang diambil oleh penjual-penjual, untuk menjadi ‘iwadl (ganti jerih-payah) dari kepayahan, kemegahan dan penerimaan kata-katanya dalam melakukan benda-benda, maka adalah haram. Karena tiada terbit dari mereka, selain kata-kata yang tak ada keletihan padanya dan tidak bernilai.

Leave a Reply